Bertahan dalam Tantangan

Jumat, 10 Juli 2020 – Hari Biasa Pekan XIV

52

Matius 10:16-23

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.”

***

Hari ini kita melanjutkan renungan kita tentang panggilan dan pengutusan para murid Yesus. Dalam seluruh tugas pengutusan mereka, selain dituntut untuk tampil sederhana, Yesus menantang para murid-Nya untuk bijaksana dan siap menghadapi berbagai tantangan, penganiayaan, dan pengkhianatan. Mereka diutus seperti domba ke tengah kawanan serigala. Domba adalah hewan yang melambangkan kelembutan, kepatuhan, tetapi juga ketidakberdayaan.

Ungkapan “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” mengisyaratkan tantangan yang akan dihadapi para murid dalam tugas pengutusan mereka. Mereka akan mengalami bahaya, penganiayaan, penolakan, dan ejekan dari orang-orang di sekitar mereka. Yesus tidak menyembunyikan kenyataan bahwa dengan mengikuti Dia, orang akan mengalami banyak cobaan dan tantangan. Sejak dari awal jemaat Kristen telah menghadapi penganiayaan yang keras. Saksinya adalah darah para martir yang menyirami tanah berbagai negara di dunia ini.

Kisah tentang penolakan dan penganiayaan atas nama agama dewasa ini juga tidak kalah mengerikan. Sampai sekarang kita berhadapan dengan intoleransi, ketidakpedulian, dan ketidakadilan. Berhadapan dengan situasi ini, Yesus menegaskan tiga hal.

Pertama, Yesus meminta kita untuk “cerdik seperti ular.” Melalui ungkapan ini, Ia mengajak kita agar bersikap kreatif sehingga memungkinkan keberhasilan proses kesaksian iman di tengah dunia modern. Hari ini, di tengah tuntutan dunia yang semakin menjadi-jadi, ide-ide baru, gebrakan baru, dan cara-cara baru untuk mengomunikasikan pesan Injil sangat dibutuhkan.

Kedua, Yesus juga meminta kita untuk “tulus seperti merpati.” Dengan segala kebijaksanaan dan kepintaran dalam menghadirkan kasih Allah ke tengah dunia, setiap orang dituntut untuk menanamkan semangat kejujuran, kesederhanaan, dan kerendahan hati.

Ketiga, Yesus menasihati kita untuk tidak khawatir tentang apa yang harus kita ungkapkan karena “bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Sejatinya, dalam seluruh usaha dan tanggung jawab yang kita emban, kita perlu sadar akan kenyataan bahwa Roh Kudus akan selalu menggerakkan kita untuk tetap setia dalam mewujudkan semangat Injil di tengah masyarakat. Seluruh kemampuan yang kita miliki merupakan buah dari karunia-karunia Roh Kudus yang dianugerahkan Allah. Rohlah yang mengubah hati, bukan daya manusiawi kita sendiri. Untuk itu, dalam menghadapi setiap pergolakan, kita perlu sadar bahwa Tuhan adalah pembela kita. Dia akan menemani kita, serta akan menguatkan kita dalam seluruh kelemahan dan kesulitan hidup kita.

Pada akhirnya, mari kita selalu ingat bahwa dalam pemuridan, simbol cinta sejati adalah salib. Tuhan meminta kita untuk berani memikul salib hidup kita sebagai bagian dari persekutuan dengan sang Gembala Sejati yang telah memenangkan penderitaan-Nya di atas salib. Oleh karena itu, mari kita berjuang sekuat mungkin, mari kita melaksanakan tugas kita dengan penuh tanggung jawab sampai akhir.