Benih yang Baik di Tanah yang Baik

Sabtu, 19 September 2020 – Hari Biasa Pekan XXIV

61

Lukas 8:4-15

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

***

Dalam dunia pertanian, benih sangat penting. Petani harus mempersiapkannya dengan baik. Ia harus memilih benih yang baik supaya dapat tumbuh dan kelak menghasilkan panenan yang baik pula. Benih itu disimpan di wadah khusus supaya tidak diganggu oleh hama sebelum ditaburkan atau ditanam.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengarkan bagaimana benih yang baik ditaburkan oleh seorang penabur. Namun, meskipun benihnya baik, bisa saja yang terjadi kemudian tidak sesuai dengan yang diharapkan. Penyebabnya adalah tempat di mana benih itu ditaburkan: Tanah berbatu, semak duri, pinggir jalan, dan tanah yang baik. Tempat pertumbuhan benih sangat menentukan keberhasilan seorang petani.

Gambaran tentang benih dan tempat pertumbuhan benih inilah yang ingin disampaikan Yesus kepada kita. Sabda Allah berasal dari Allah sendiri, sehingga sudah pasti baik dan sempurna adanya. Namun, bagaimana sabda itu tumbuh dan berbuah ditentukan oleh situasi kita sebagai para penerima sabda. Kita bisa saja menjadi tanah yang berbatu, semak duri, tanah yang di pinggir jalan, atau tanah yang baik.

Sebagai orang kristiani, kita diajak mempersiapkan diri agar menjadi tanah yang baik. Dengan itu, sabda Allah akan tumbuh dengan baik dan berbuah berlipat ganda dalam diri kita. Kita akan menjadi tanah yang baik kalau bersedia membuka hati kita bagi Tuhan. Sejak awal, Tuhan telah mengasihi dan memberikan keselamatan kepada kita. Keputusan selanjutnya berada di tangan kita: Apakah kita mau menanggapi kasih itu secara positif atau tidak; apakah kita mau menjadi tanah yang baik atau tanah yang tandus. Kita diundang untuk menentukan pilihan yang tepat.