Panggilan dan Pertobatan Matius

Senin, 21 September 2020 – Pesta Santo Matius

47

Matius 9:9-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

***

Yesus memanggil seorang pemungut cukai untuk menjadi murid-Nya. Sungguh aneh, sebab orang-orang dengan profesi ini jamak disebut kaum pendosa. Demi keuntungan pribadi, mereka tega memaksa rakyat membayar cukai sebesar-besarnya. Mereka juga bekerja bagi penjajah Romawi. Mengapa Yesus memilih murid dari kalangan ini?

Dipanggil menjadi pengikut Yesus merupakan kejutan besar bagi Matius, pemungut cukai itu. Ia pasti sudah mendengar segala sesuatu tentang Yesus, termasuk bagaimana Yesus berbelas kasih terhadap orang-orang yang disingkirkan. Tanpa pikir panjang, Matius langsung menanggapi panggilan itu. Ia pun meninggalkan pekerjaannya untuk mengikut Yesus. Jalan hidup Matius seketika berubah seratus delapan puluh derajat.

Kegembiraan Matius adalah kejengkelan bagi orang Farisi. Mereka heran mengapa Yesus mau mendekati orang berdosa. Menurut mereka, para pemungut cukai adalah orang-orang najis yang seharusnya dijauhi. Namun, Yesus tidak menyetujui pendapat itu. Ia memahami bahwa yang terutama dibutuhkan orang berdosa adalah belas kasihan. Yesus mendekati orang-orang itu untuk menunjukkan bahwa mereka tetaplah manusia yang mempunyai nilai. Bapa mengasihi dan tidak membuang mereka. Bagi mereka, jalan untuk kembali kepada-Nya selalu terbuka lebar.

Itulah tugas pengutusan Yesus, yakni untuk menuntun orang berdosa kembali ke jalan yang benar. Pengalaman Matius membuktikan bahwa pendekatan yang ditempuh Yesus sangat tepat. Bagaimana dengan kita? Sudahkah panggilan Tuhan mengubah hidup kita ke arah yang lebih positif? Jika belum, tampaknya kita harus belajar lebih banyak lagi bagaimana cara menjadi murid Yesus yang sejati.