Mengapa Kita Harus Mengasihi Sesama?

Minggu, 25 Oktober 2020 – Hari Minggu Biasa XXX

127

Matius 22:34-40

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

***

Bacaan pertama hari Minggu ini diambil dari kitab Keluaran (Kel. 22:21-27), berisi nasihat kepada bangsa Israel agar mereka tidak menindas, tidak memeras, dan tidak mencari untung secara sewenang-wenang terhadap sesama yang lemah. Nasihat ini didasari oleh dua alasan utama.

Pertama, Israel harus sadar bahwa mereka pun dahulu pernah mengalami penindasan dan kepahitan di Mesir. Karena itu, mereka harus tetap rendah hati, mengingat dalam-dalam pengalaman masa lalu, dan tidak lupa diri dengan bertindak sewenang-wenang terhadap sesamanya. Dalam penderitaan mereka, Allah dengan murah hati berkenan campur tangan untuk menolong umat-Nya secara cuma-cuma. Israel harus bercermin pada masa lalu mereka itu.

Kedua, Allah yang diimani Israel adalah Allah yang pengasih, penyayang, dan selalu berpihak pada yang lemah. Dengan sangat tajam, Ia mendengarkan seruan umat-Nya yang menderita karena diperlakukan tidak adil oleh yang lain. Cinta-Nya kepada yang lemah dan tertindas membangkitkan rasa belas kasihan di hati Allah untuk menolong, serta di lain pihak, menghancurkan para penindas dan orang-orang sombong.

Dengan dua alasan itu, penyusun kitab Keluaran mengingatkan bangsa Israel agar memiliki kesadaran yang mendalam dan menghindari penindasan. Israel mestinya lebih berkobar-kobar dalam hal mengampuni, menolong, bersikap murah hati, dan mencintai sesama yang mengalami kesusahan.

Sementara itu, bacaan kedua berisi ungkapan syukur dan rasa bahagia Paulus kepada jemaat di Tesalonika (1Tes. 1:5c-10). Paulus berterima kasih dan sangat berbahagia atas ketekunan dan kehebatan luar biasa jemaat dalam hal iman. Biarpun dalam penindasan dan penderitaan hebat, mereka tetap menerima firman dan karya Roh Kudus. Mereka yang sebenarnya masih pemula dalam hal iman justru mampu menjadi teladan bagi jemaat-jemaat di tempat lain.

Sebagai puncak, bacaan Injil hari ini berbicara tentang hukum yang terutama. Bermula dari niat pura-pura seorang ahli Taurat yang bermaksud menguji Yesus, Yesus menanggapinya dengan berbicara secara tegas tentang hukum yang paling utama dalam hubungannya dengan Allah dan sesama. Dinyatakan oleh-Nya bahwa hukum yang paling utama adalah mengasihi Tuhan dan sesama dengan seluruh diri, dengan segenap hati. Hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, dan hukum itu terwujud dalam tindakan mengasihi orang lain.

Dengan demikian, semua bacaan hari ini mengajak kita untuk mengasihi Tuhan melalui tindakan mengasihi sesama manusia secara maksimal. Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita dengan cuma-cuma dan menolong kita keluar dari kemalangan masa lalu. Atas dasar ini, kita yang mengimani Dia dituntut untuk bersikap sama terhadap orang lain. Dengan itu, mengasihi sesama bukan saja merupakan kewajiban kristiani, melainkan juga ungkapan syukur kita sebagai seorang beriman yang rendah hati. Begitu kita dilahirkan dan mengenal Kristus, pada saat itu pula dengan sendirinya kita harus mengasihi Tuhan melalui sesama yang kesusahan dan menderita.