Berdoa Tanpa Jemu

Sabtu, 14 November 2020 – Hari Biasa Pekan XXXII

48

Lukas 18:1-8

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

***

Yesus mengajarkan agar kita selalu berdoa tanpa merasa jemu. Apa artinya? Artinya, kita dituntut untuk selalu memiliki keinginan untuk berdoa. Doa yang dilandasi oleh keinginan kuat akan membuahkan kepuasan rohani, sebab hal itu menjadi tanda bahwa kita berdoa karena butuh berdialog dengan Tuhan.

Santo Agustinus mengajarkan, “Kita berdoa selalu dengan keinginan yang tak kunjung henti dalam iman, harapan, dan kasih.” Tentunya keinginan yang dimaksud bukanlah aneka macam kebutuhan manusiawi kita, melainkan bahwa doa itu sendirilah yang menjadi keinginan kita. Doa adalah kebutuhan, seperti kita butuh untuk makan dan minum.

Doa merupakan kesempatan rohani untuk menyadari kuasa dan rencana Tuhan. Melalui doa, kita menyerahkan hidup dan keadaan aktual kita kepada Tuhan, dengan sungguh percaya untuk bertindak seturut cara-Nya. Doa tidak sebatas rangkaian kata yang mungkin terkesan seperti mantra. Doa adalah dialog, kesempatan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Seperti kita bisa betah mengobrol selama berjam-jam dengan teman akrab, seharusnya kita juga mampu melakukan itu ketika berdoa.

Sebagai sebuah dialog, dalam doa harus terjadi interaksi antara kedua belah pihak, yakni kita dan Tuhan. Pertanyaannya, sudahkah kita mampu mendengarkan suara Tuhan dalam doa? Sudahkah doa kita memuliakan Tuhan dan tidak hanya berisi rentetan daftar kebutuhan manusiawi kita?

Agar sampai pada kenyamanan dalam berdoa, kita perlu memiliki iman. Iman adalah tanggapan kita atas wahyu Allah. Iman membuktikan kualitas rohani kita dalam mencerna anugerah-Nya. Iman yang hidup akan membawa setiap orang menuju pada kematangan manusiawi dan rohani. Hidup yang tenang tidak terletak pada terkabul tidaknya segala macam kebutuhan kita, tetapi muncul dari kedalaman iman setiap orang. Iman akan membawa orang sampai pada kesadaran bahwa Tuhan adalah penyelenggara kehidupan. Kendati banyak tantangan dan kesulitan, Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk berusaha. Itulah iman, yakni bersyukur dan menyadari kehadiran Tuhan dalam segala macam situasi kehidupan.

Mari kita masuk dalam hati kita masing-masing untuk bertanya: Apakah doa kita selama ini masih berorientasi pada diri sendiri? Ataukah kita sudah mencapai taraf pada keinginan dan kebutuhan rohani? Semoga kita memiliki iman yang tangguh, semoga pula kita mampu menjalin komunikasi dengan Tuhan, sehingga hidup kita berisikan aktivitas yang dilandasi oleh spiritualitas.