Berjaga-jaga dan Berdoa

Sabtu, 28 November 2020 – Hari Biasa Pekan XXXIV

61

Lukas 21:34-36

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”

***

Kemajuan teknologi zaman ini begitu banyak memudahkan kita dalam pekerjaan. Berbagai keindahan dan kenikmatan juga ditawarkan kepada kita, yang dapat kita peroleh dengan cepat dan murah. Banyak hal yang baik dan positif dari teknologi, tetapi dampak negatifnya juga ada, yakni bila kita salah dalam menggunakannya. Kita cepat menyelesaikan pekerjaan berkat teknologi, tetapi di balik itu ada bahaya tumbuhnya budaya dan mental instan. Apakah kita akan menggunakan teknologi secara positif atau negatif, apakah kita memilih kebaikan atau kejahatan, apakah kita memilih madu atau racun, pilihan pada akhirnya selalu berada di tangan kita.

Hari ini merupakan hari terakhir tahun liturgi A. Setelah sebelumnya bacaan-bacaan yang kita renungkan menggambarkan kedatangan akhir zaman sebagai kehancuran, hari ini kepada kita disuguhkan gambaran tentang kehidupan baru yang indah bersama Tuhan. Dalam bacaan pertama (Why. 22:1-7), Yohanes menggambarkan penglihatannya tentang takhta Allah yang dikelilingi oleh keindahan, yakni aliran air dan pohon-pohon subur yang menghasilkan banyak buah. Inilah gambaran kehidupan yang akan kita nikmati saat Anak Manusia datang pada hari terakhir, bila kita didapatinya tetap setia.

Dalam bacaan Injil, Yesus meminta kita untuk tetap setia dan berjaga-jaga, menjaga diri dan hati agar tidak terseret oleh kehidupan duniawi yang menawarkan berbagai kenikmatan, yakni pesta pora dan kemabukan. Kita harus senantiasa ingat bahwa kehidupan di dunia ini sementara saja. Karena itu, jangan sampai kita tersandera oleh kenikmatan-kenikmatan sesaat, sebab tempat kita yang sesungguhnya adalah kehidupan bersama Kristus setelah kehidupan sementara ini berlalu. Allah telah menyiapkan kehidupan itu bagi kita asalkan kita didapati-Nya tetap setia. Untuk itu, Yesus kembali menekankan pentingnya doa. Doa akan menguatkan dan meluputkan kita dari godaan-godaan yang dapat menghancurkan kita. Doa akan memampukan kita untuk bertahan.

Besok kita akan memulai tahun liturgi yang baru, yang ditandai dengan lingkaran Adven dari daun-daun segar berwarna hijau. Hijau melambangkan harapan. Selama perjalanan hidup kita di dunia ini, kita berharap akan memperoleh kehidupan kekal di surga. Mari memohon rahmat Tuhan agar kita dapat tetap setia kepada-Nya.