Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi

Minggu, 10 Januari 2021 – Pesta Pembaptisan Tuhan

40

Markus 1:7-11

Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

***

Hari ini, dengan Pesta Pembaptisan Tuhan, Masa Natal telah berakhir. Injil mengatakan bahwa Yohanes muncul di padang gurun dan memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa. Orang-orang datang untuk melihat dan mendengarkan dia, untuk mengakui dosa-dosa mereka, dan untuk dibaptis olehnya di Sungai Yordan. Di antara orang-orang itu, Yesus juga dibaptis.

Kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk mewujudkan kasih Allah yang menyelamatkan kita. Pada hari Natal, kita telah melihat bagaimana Yesus sebagai manusia dalam rupa bayi yang mungil menampakkan diri kepada para gembala dan orang majus dari timur yang datang untuk menyembah-Nya dan mempersembahkan hadiah mereka kepada-Nya.

Sekarang, di Sungai Yordan, terjadilah penampakan keilahian Yesus. Langit terbuka dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Terdengarlah suara Bapa, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Dalam hal ini, Bapa sendirilah yang mengungkapkan siapa Yesus, Putra-Nya yang terkasih.

Tentu saja pewahyuan ini bukan hanya untuk Yohanes dan orang Yahudi. Pewahyuan ini untuk kita juga. Yesus sendiri, Putra Bapa yang terkasih, yang dinyatakan kepada orang-orang Yahudi di Sungai Yordan, terus-menerus dinyatakan kepada kita setiap hari, yakni di Gereja, di dalam doa, di dalam saudara-saudari kita, pada pembaptisan yang telah kita terima yang menjadikan kita anak-anak dari Bapa yang sama.

Karena itu, mari kita bertanya: Apakah kita mengenali kehadiran-Nya, mengenali cinta-Nya dalam hidup kita? Apakah kita menjalani hubungan cinta bakti yang sejati dengan Tuhan? Paus Fransiskus berkata, “Apa yang dicari Tuhan dari kita adalah hubungan seperti antara ayah dan anak. Tuhan memberi kita perhatian dan memberi tahu kita: Aku selalu berada di sisimu.”

Di tengah pergumulan dan kesulitan kita, khususnya pada masa pandemi ini, semoga Bapa Surgawi juga berkata kepada kita, “Engkau adalah anak-Ku yang Kukasihi, kepadamu Aku berkenan.”