Menjadi Pribadi Visioner

Rabu, 20 Januari 2021 – Hari Biasa Pekan II

65

Markus 3:1-6

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

***

Yesus masih berkonflik dengan orang Farisi perihal aturan. Kali ini Ia menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Yesus konsisten dengan pendirian-Nya. Ia mengutamakan rasa kemanusiaan, sehingga menyembuhkan orang sakit itu meskipun saat itu adalah hari Sabat.

Karena berpegang teguh pada prinsip tersebut, Yesus tidak gentar di hadapan lawan-lawan-Nya. Ia tidak takut dipersalahkan atau dijatuhi tuduhan oleh orang Farisi. Sikap ini jelas menunjukkan bahwa Yesus berani mengambil risiko demi keselamatan sesama daripada menyenangkan lawan-lawan-Nya.

Kita tahu salah satu penyakit yang sering muncul dalam suatu kelompok adalah sikap ABS, yakni Asal Bapa Senang. Sikap ini membuat orang taat secara buta, suka memuji atasan dengan alasan yang dibuat-buat, serta selalu berusaha mempertahankan status quo. Dampaknya, orang tidak punya prinsip hidup, tidak visioner, dan tidak mampu bersikap kritis. Berbeda pendapat dianggap salah; bersikap kritis dipandang melawan. Akhirnya, hati nurani dan akal budi akan menjadi tumpul.

Yesus hari ini menginspirasi kita agar menjadi pribadi yang visioner dan berprinsip. Kita perlu memiliki visi tentang apa pun dalam kehidupan ini. Visi yang jelas membantu kita menentukan nilai-nilai apa saja yang pantas menjadi prinsip hidup kita. Dengan begitu, kita bisa menentukan sikap secara mandiri. Kita taat, tetapi pada saat yang sama bersikap kritis dan berbicara berdasarkan data. Kita juga berani mengambil risiko demi kebaikan.