Puasa dan Pertobatan

Rabu, 17 Februari 2021 – Hari Rabu Abu

61

Matius 6:1-6, 16-18

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

***

Di zaman digital seperti sekarang ini, orang sulit untuk membedakan “kebenaran sejati” yang berasal dari fakta-fakta objektif dengan “kebenaran semu” yang hanya diklaim dari keyakinan dan pandangan-pandangan subjektif tanpa telaah logis akal budi. Sosial media mampu menampilkan apa yang senyatanya tidak benar karena tidak ada faktanya menjadi “suatu kebenaran” karena melibatkan emosi subjektif massa melalui gambar dan kata-kata. Dalam situasi seperti ini, tidak sedikit orang jatuh dalam pencitraan. Mereka menampilkan diri dalam sosial media yang sama sekali berbeda dengan dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain, menurut pandangan filsuf Perancis Jean Baudrillard, banyak orang hidup dalam dunia simulacra, yakni dunia fantasi, dunia pencitraan yang semu, yang penuh dengan aneka macam simbol duplikasi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Ternyata model-model pencitraan seperti itu sudah ada pada zaman Yesus. Dalam bacaan Injil hari Rabu Abu ini, Yesus menangkap gelagat orang-orang munafik dalam menjalankan ajaran-ajaran keagamaan. Mereka melakukan kewajiban agama agar dilihat orang, yakni ketika memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Yesus menegur mereka, sekaligus mengajar orang-orang yang beriman kepada-Nya agar tidak berbuat seperti itu. Kemunafikan haruslah dihindari.

Saudara-saudari yang terkasih, hari Rabu Abu adalah awal bagi kita dalam menjalani Masa Prapaskah, yakni masa pantang dan puasa. Abu yang kita terima mengingatkan pada hakikat asali kita, “Ingatlah engkau adalah debu, dan engkau akan kembali menjadi debu.” Masa Prapaskah bagi umat Kristiani merupakan kesempatan untuk berefleksi dan mengevaluasi diri, untuk jujur di hadapan Allah dengan segala kelemahan dan kerapuhan kita. Karena itu, sikap pertobatan yang dijalani bersama dengan laku pantang dan puasa harus sungguh-sungguh berangkat dari motivasi yang jujur dan murni, alih-alih sebuah pencitraan. Nabi Yoel dalam bacaan pertama (Yl. 2:12-18) menegaskankan hal itu dengan berkata, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu…” Yesus pun sudah sejak awal selalu mengingatkan para murid-Nya agar tidak berlaku munafik, tetapi melakukan kebaikan dan membangun pertobatan secara nyata.