Masa Padang Gurun

Minggu, 21 Februari 2021 – Hari Minggu Prapaskah I

63

Markus 1:12-15

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

***

Kehidupan para rahib identik dengan bertapa yang dilakukan di tempat-tempat sunyi. Mereka menghabiskan waktu dalam kesunyian dan hidup secara kontemplatif. Dalam keheningan, mereka menghayati kehidupan sehari-hari untuk menuju pada kesucian, yaitu mencari dan melakukan kehendak Allah. Untuk itu, hidup mereka dipenuhi dengan doa, puasa, dan bekerja. Doa menjadi pusat kehidupan mereka untuk menjalin relasi dengan Allah; puasa menjadi usaha penyangkalan diri akan hal-hal duniawi yang bisa membawa mereka jatuh ke dalam dosa; sedangkan bekerja diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Semua bentuk kegiatan tersebut dilakukan dalam suasana padang gurun. Padang gurun menjadi tempat yang dipilih untuk mengarahkan hidup kepada Allah, sebab di situ mereka boleh mengalami banyak pencobaan. Dengan kata lain, untuk hidup suci, mereka harus menempa diri, sekaligus mengalami banyak godaan.

Gaya hidup para rahib di atas kiranya meneladan gaya hidup Yesus yang hari ini diperdengarkan kepada kita. Yesus berada di padang gurun, dan di situ Ia mengalami pencobaan dari Iblis. Iblis menggoda Yesus supaya gagal melakukan kehendak Bapa. Namun, berkat bimbingan dari Roh, Yesus mampu mengatasi segala pencobaan itu. 

Dalam Masa Prapaskah, kita umat kristiani memasuki masa padang gurun. Kita diajak untuk mengusahakan kesucian hidup, yaitu untuk mendengarkan kehendak Bapa. Godaan demi godaan sudah pasti akan berdatangan untuk menghadang perjalanan kita. Bagaimana kita harus menghadapinya? Caranya adalah dengan pertobatan, yang berarti mengarahkan tujuan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Pertobatan ini perlu kita hayati dalam doa, puasa, dan karya. Tanpa pertobatan, kita akan gagal menjalani masa padang gurun hidup kita. Dengan pertobatan, perjalanan di padang gurun akan menuntun kita pada persatuan dengan Allah.