Siapakah Yesus bagi Kita?

Senin, 22 Februari 2021 – Pesta Takhta Santo Petrus

67

Matius 16:13-19

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

***

Takhta melambangkan kemegahan, prestise, dan kedudukan. Gambaran takhta yang demikian lazim terdengar di kalangan kita, seperti takhta para raja atau pemimpin lainnya. Namun, makna terdalam dari takhta sesungguhnya adalah tentang kepemimpinan yang melayani. Di atas takhta sejatinya ada semangat pelayanan dan tanggung jawab atas hal-hal yang dipercayakan kepada seorang pemimpin. Soal inilah yang kita renungkan hari ini dalam perayaan takhta Santo Petrus.

Petrus mendapat takhta dari Yesus. Takhta Petrus tidak terlepas dari panggilannya untuk menjadi seorang pelayan. Sebagaimana Yesus, ia diberi tanggung jawab sebagai pelayan rencana Allah. Dengan kata lain, tanggung jawab yang diberikan kepada Petrus adalah rencana Allah kepada Yesus yang diteruskan oleh para rasul. Oleh sebab itu, takhta Santo Petrus sifatnya berkelanjutan. Takhta ini berarti semangat pelayanan yang dipercayakan kepada kita, setiap pengikut Kristus. Takhta ini diteruskan kepada setiap orang yang mau menjadi pelayan. Panggilan pelayanan ini perlu kita hidupi dalam semangat mengenali Yesus sebagai pribadi yang berarti bagi diri kita.

Untuk sampai pada pengenalan akan Yesus, mari kita bertanya, “Siapakah Yesus bagi kita?” Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tinggal dan hidup bersama Yesus. Petrus mengetahui Yesus sebagai Mesias karena ia tinggal dan hidup bersama-Nya. Pengalaman hidup bersama Yesus membuat Petrus yakin akan identitas Yesus yang sebenarnya.

Sebagai pengikut Kristus, sesungguhnya kita bertanggung jawab untuk melanjutkan pelayanan yang dikerjakan Yesus. Bentuk pelayanan Yesus dapat kita teruskan apabila kita mengetahui hal-hal yang dikerjakan oleh-Nya. Untuk itu, kita perlu memiliki relasi yang mendalam dengan-Nya, yakni dengan merenungkan hidup Yesus dan membawanya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam masa pertobatan ini, mari kita merenungkan semangat pelayanan yang dipercayakan Bapa kepada kita. Apakah kita sudah melakukan tugas sebagai pelayan bagi sesama? Apakah pelayanan kita dapat dipertanggungjawabkan dengan baik?