Jangan Terlambat untuk Berbuat Baik

Kamis, 4 Maret 2021 – Hari Biasa Pekan II Prapaskah

69

Lukas 16:19-31

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

***

Pernahkah Anda terlambat, mungkin saat berangkat ke kampus, ke tempat kerja, saat mengumpulkan tugas, saat menghadiri rapat, saat hendak mengikuti perayaan Ekaristi, dan lain sebagainya? Bisa jadi keterlambatan itu bukanlah sesuatu yang fatal, dalam arti kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Namun, ada keterlambatan-keterlambatan yang berakibat fatal, di mana penyesalan tidak akan berguna sama sekali. Inilah yang dialami orang kaya dalam bacaan Injil hari ini.

Diceritakan, seorang miskin bernama Lazarus duduk di depan pintu rumah orang kaya yang setiap hari bersukaria dalam kemewahan. Apakah kehadiran Lazarus diperhatikan? Tampaknya tidak. Lazarus diabaikan begitu saja. Ia bahkan harus makan sekadar remah-remah yang jatuh dari atas meja orang kaya itu. Pemandangan kontras terjadi di sana. Namun, pemandangan tersebut segera berbalik. Ketika mereka berdua meninggal, Lazarus mengalami kebahagiaan di surga, sedangkan orang kaya itu menderita sengsara di alam maut.

Betapa menyesalnya orang kaya itu, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk mengubah keadaan. Ia terlambat untuk berbuat baik, terlambat untuk mengasihi sesama. Ia terlena dalam kemewahan dan kenyamanan, serta merasa diri paling memiliki semuanya. Sifat-sifat seperti ini tidak diinginkan oleh Tuhan. Kecaman keras bahkan dilontarkan dalam bacaan pertama hari ini (Yer. 17:5-10): “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari Tuhan!”

Saudara-saudari terkasih, sudahkah kita berbagi terhadap sesama yang membutuhkan sebagai bentuk amal kasih dalam menjalani Masa Prapaskah ini?