Tanda pada Sang Pembunuh (3)

"Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia" (Kej. 4:15)

222

Kasih Tuhan terhadap orang berdosa

Jika demikian, daripada terjebak dalam spekulasi yang tak berkesudahan, baiklah kita memperhatikan hal lain yang lebih penting, yakni menyangkut tujuan dan makna tanda tersebut. Tujuan pemberian tanda rasanya cukup jelas, yakni agar tidak ada orang yang membunuh Kain. Karena itu, tanda yang diberikan Tuhan juga merupakan keringanan hukuman bagi Kain. Nyawanya senantiasa terjamin, sehingga hukuman pembuangan yang menimpanya tak lagi sejajar dengan hukuman mati.

Perihal makna, mengacu pada pendapat Walter Brueggemann, tanda yang diterima Kain punya makna yang mendua.[1] Di satu sisi, dengan tanda itu Kain dinyatakan sebagai pihak yang bersalah, orang berdosa yang tengah menjalani hukuman. Di sisi lain, tanda itu sekaligus merupakan berkat, sebab dengannya Kain dapat hidup dengan aman di bawah perlindungan Tuhan. Meskipun demikian, yang tampak lebih ditekankan di sini kiranya sisi yang positif.[2] Kain telah melakukan dosa besar. Tuhan menghukumnya, namun tetap memperhatikan dan berbelaskasihan kepadanya. Akibat kesalahannya, perjalanan hidup Kain ke depan akan berat, namun perlindungan Tuhan akan senantiasa menyertainya dalam pengembaraan.[3]

Hal lain yang sering didiskusikan dalam kisah Kain adalah siapa yang sebenarnya menerima tanda dari Tuhan? Kain secara personal? Ataukah juga suku bangsa keturunannya? Diskusi ini lahir karena ada yang memperkirakan bahwa kisah Kain sebenarnya merupakan kisah asal-usul suku Keni. Jika demikian, tanda yang diterima Kain mestinya diteruskan pula kepada anak cucunya. Mereka ‘mewarisi’ hukuman yang dijatuhkan Tuhan kepada Kain, sekaligus juga berkat perlindungan dari-Nya.[4]

Namun, Westermann kurang sependapat dengan hal itu.[5] Menurutnya, konteks pemberian tanda dalam Kej. 4:1-16 lebih mendukung pemahaman bahwa tanda itu diberikan kepada Kain seorang. Kain mengeluh karena dijatuhi hukuman berat, ia cemas dibunuh orang yang ditemuinya di jalan. Tuhan menanggapi keluhan itu dengan pernyataan (“Sekali-kali tidak! Barangsiapa…”) dan tindakan (memberi tanda) yang tepat menjawab persoalan. Tanda tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa Kain berada di bawah hukuman sekaligus perlindungan Tuhan. Tak ada seorang pun boleh campur tangan dalam hal ini. Mengganggu Kain berarti berurusan dengan Tuhan. Tanda yang diterima Kain menjadi pernyataan tegas bahwa ia adalah ‘anggota keluarga’ Tuhan, meski hak-haknya telah hilang akibat kejahatan yang dilakukannya.

Penutup

Kej. 4:1-16 menampilkan dua pengalaman hidup yang kiranya lazim dialami oleh setiap insan, yakni penderitaan dan perlindungan Tuhan. Penderitaan terjadi sering kali akibat kesalahan kita sendiri. Dalam hal ini kita diwakili oleh Kain yang tega membunuh Habel. Sebagai saudara, Kain mestinya menjaga adiknya tersebut, bukan malah memperlakukannya seperti itu. Namun, sebagaimana kerap terjadi pada kita semua, yang lebih mengemuka di hati Kain ternyata iri hati, kebencian, kemarahan, dan egoisme pribadi.

Tindakan Kain membuat hidupnya terasing, bukan hanya dari sesama, tapi juga dari Tuhan. Hukuman yang diterima Kain menunjukkan kepada kita bahwa kejahatan terhadap sesama manusia mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan. Yang terjadi pada Kain, ia mesti menjadi pelarian dan pengembara. Hubungan dengan keluarganya terputus, berkat Tuhan pun menjauh dari dirinya.

Namun, Tuhan itu baik. Keadilan-Nya tidak sama dengan keadilan manusia. Secara misterius, Tuhan tetap melindungi Kain. Sang pembunuh tetap mendapat belas kasih dari-Nya. Ia memberi Kain tanda sebagai bentuk keringanan hukuman, sekaligus untuk menjamin kelangsungan hidupnya.[6] Tuhan memang menghukum, tapi Ia tidak sama sekali mencampakkan Kain. Jangan lupa bahwa jauh sebelumnya, Tuhan telah menasihati Kain agar waspada terhadap godaan dosa (Kej. 4:6-7).

Semua itu menunjukkan, lebih dari kasus pembunuhan terhadap saudara sendiri, lebih dari masalah dosa yang makin lama makin menggila, juga lebih dari keberadaan tanda yang sangat misterius, yang menonjol dari Kej. 4:1-16 kiranya adalah gambaran tentang Tuhan sebagai Hakim yang penuh kasih. Ia menghukum, namun tetap campur tangan untuk mencegah terjadinya kemungkinan terburuk dalam hidup si pendosa. Kembali ke awal kisah sebelum Kain membunuh Habel, kasih Tuhan ini kiranya menegaskan: meski Ia menolak persembahan Kain, Tuhan tidak pernah menolak Kain sebagai seorang pribadi.***

 

Daftar Pustaka

Bergant, Dianne, dan Robert J. Karris (ed.). 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius.

Gibson, John C.L. 1981. The Daily Study Bible: Genesis Volume I. Edinburgh: The Saint Andrew Press.

Gowan, Donald E. 1988. Genesis 1-11: From Eden to Babel. Grand Rapids: WM. Eerdmans Publishing Co.

Lenchak, Timothy A. 199x. Puzzling Passages. The Bible Today. Hlm. 53.

Maher, Michael. 1982. Genesis. Delaware: Michael Glazier, Inc.

Moberly, R.W.L. 2007. “The Mark of Cain – Revealed at Last?” Harvard Theological Review. 100 (1), pp. 11-28.

Sanjaya, V. Indra. 2003. Membaca Lima Kitab Pertama Alkitab I: Pengantar Umum-Kitab Kejadian. Yogyakarta: Kanisius.

Speiser, E.A. 1981. The Anchor Bible: Genesis. New York: Doubleday & Company, Inc.

Westermann, Claus. 1985. Genesis 12-36: A Commentary. London: SPCK.

 

[1] Walter Brueggemann. 1982. Genesis. Atlanta: John Knox Press, p. 60.

[2] Lenchak, 199x:53.

[3] Perlindungan ini tak boleh dipahami sebagai dukungan bagi Kain untuk terus melakukan kejahatan. Sayangnya, lihat syair Lamekh di Kej. 4:23-24. Catatan kaki dalam Alkitab edisi studi (Ende: Arnoldus, 1983/1984) menyatakan: syair itu disisipkan dalam silsilah Kain “sebagai bukti bahwa dalam keturunan Kain keganasan semakin menjadi”.

[4] Moberly mendukung pandangan ini. Menurut Moberly, bercermin pada sosok Esau dan Yakub (Kej. 25:23; 27:27-29), Kain agaknya mewakili sekelompok orang, yakni sukunya, yang disebut suku Keni. Kisah Kain dan Habel dengan demikian tidak hanya berbicara tentang pembunuhan seseorang di masa lalu, tapi juga pembunuhan-pembunuhan lain yang dilakukan keturunan Kain pada masa kisah ini disusun (bdk. Kej. 4:23-24). Firman Tuhan dimaksudkan untuk melindungi keberadaan mereka dari kepunahan akibat balas dendam pihak lain. Lih. Moberly, 2007: 11-28.

[5] Westermann, 1985:288-320.

[6] Pengalaman Kain dalam arti tertentu mengingatkan kita pada pengalaman Ismael (Kej. 16:1-16; 21:8-21). Dua orang ini sama-sama tidak dipilih Tuhan, tapi tetap diberkati oleh-Nya. Lih. Moberly, 2007: 11-28.