Berhimpun dalam Kebersamaan dengan Tuhan

Rabu, 16 Agustus 2017 – Hari Biasa Pekan XIX

154

Matius 18:15-20

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

***

Yesus merasa bahwa saat-saat kepergian-Nya sudah mendekat (Mat. 17:22-23). Ia tidak akan bisa lagi bersama-sama dengan para murid-Nya. Mereka harus mulai belajar hidup mandiri. Karena itu, ia menasihati para murid agar satu sama lain saling menjaga, yakni dengan tidak bersikap menang sendiri (Mat. 18:1-5), tidak menyesatkan orang lain (Mat. 18:6-11), dan kalau ada di antara mereka yang salah jalan, orang itu sedapat mungkin diajak untuk kembali (Mat. 18:12-14). Bagaimana cara merangkul kembali saudara yang tersesat itu? Langkah-langkahnya dijelaskan Yesus dalam bacaan Injil hari ini.

Orang yang berbuat dosa itu ibarat seekor domba yang salah jalan dan menjauh dari kawanannya. Daripada memikirkan hukuman apa yang pantas baginya, lebih baik murid-murid Yesus berfokus pada usaha-usaha untuk mengajaknya bersatu kembali dengan mereka. Sebagai langkah pertama, orang itu perlu diajak bicara dari hati ke hati. Jelaskan kepadanya bahwa perbuatan yang dilakukannya itu keliru. Jika ia menyadari kesalahannya, perkara selesai.

Jika langkah pertama tidak berhasil, ambil langkah kedua. Pada tahap ini pendekatan pribadi tetap ditempuh. Bedanya, kali ini beberapa orang turut dilibatkan untuk menyadarkan si pendosa. Dengan kehadiran mereka diharapkan orang itu sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya memang secara objektif salah. Semangat kekeluargaan sangat ditekankan di sini, dan tujuan dari pendekatan ini tetap saja untuk menyadarkan, bukan mempersalahkan.

Kalau ia tetap kepala batu, jangan buru-buru panas hati. Bawa saja kasusnya ke jenjang yang lebih tinggi, yakni kepada jemaat. Yang dimaksud di sini bukannya menyeret orang itu di hadapan seluruh jemaat, lalu menghakiminya bagaikan sidang di pengadilan, melainkan agar perkara tersebut ditangani oleh orang-orang khusus yang ditugaskan oleh jemaat. Keputusan yang mereka ambil merupakan keputusan resmi jemaat. Pembicaraan dilakukan di kalangan pihak-pihak yang berkepentingan saja, sehingga jangan dibayangkan terbuka untuk umum dan menjadi tontonan banyak orang.

Tidak mau sadar juga? Apa boleh buat, orang ini benar-benar keras kepala dan tidak bisa ditangani lagi. Yesus menyarankan, “Pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” Harus diingat bahwa ini bukan anjuran agar seluruh jemaat kompak memusuhi, mengucilkan, atau menyingkirkan orang itu. Yang dimaksud Yesus, usaha mereka untuk menyadarkan si pendosa sudah cukup sampai di sini. Untuk selanjutnya, tugas itu diambil alih Bapa yang dengan satu dan lain cara akan berupaya mendekati dan mengembalikan anak yang hilang itu.

Dalam suatu kelompok, biasanya selalu ada saja satu dua orang yang tampil menjadi biang onar. Tidak selalu berarti bahwa mereka berbuat dosa atau melakukan kejahatan, yang jelas tingkah laku mereka tidak sewajarnya dan mengganggu orang lain. Sebagai solusi untuk mengatasi masalah tersebut, sering kali kita tergoda untuk berpikir pendek. Ada yang berkata, “Jauhi mereka!” Yang lain berkata, “Dimarahi saja dan beri hukuman berat!” Ada juga usul yang lebih praktis dan sadis, “Usir jauh-jauh, keluarkan dari jemaat!”

Kalau sedikit-sedikit main hukum, sedikit-sedikit main usir, kumpulan orang yang mengimani Yesus pastilah tercerai-berai dan berumur pendek. Karena itu, agar jemaat tidak bubar, tetap kokoh dalam persatuan, dan berkembang dalam kebersamaan dengan Tuhan, haruslah mereka saling menjaga satu sama lain. Dalam perjalanan waktu, mereka pasti akan diterpa berbagai macam masalah silih berganti. Jangan goyah, jangan terkejut, sebab hal itu sudah sewajarnya terjadi. Dengan pendekatan yang tepat, masalah yang datang tidak akan mampu menghancurkan mereka, sebaliknya justru akan membuat mereka lebih kuat.