Ke Yerusalem

Selasa, 3 Oktober 2017 – Hari Biasa Pekan XXVI

160

Lukas 9:51-56

Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

***

Pulang sekolah, Prapto cepat-cepat menyalakan televisi. Hari ini siaran langsung sepak bola U-19 antara Indonesia dan Vietnam. Pertandingan baru berlangsung sepuluh menit. Prapto begitu bersemangat, berteriak-teriak mendukung Tim Garuda. Tiba-tiba ibunya memanggil dan menyuruh Prapto untuk mengantar pakaian yang sudah rapi kepada beberapa pelanggan. Walau pertandingan sedang seru, akhirnya Prapto tetap berangkat. Dalam perjalanan, ia melewati sebuah pos ojek. Ramai orang berkerumun menonton sepak bola. Prapto berhenti sebentar, tetapi kemudian segera mengayunkan langkahnya kembali. Ia ingat bahwa pakaian bersih harus segera diantar, siapa tahu pelanggan ibunya membutuhkan pakaian tersebut siang ini.

Setia pada tujuan awal tidak selalu mudah. Ada godaan-godaan yang selalu menghadang, entah untuk berhenti di tengah-tengah proses, entah untuk mengubah arah menuju hal lain yang lebih menarik. Apalagi ketika hambatan dan kesulitan menghadang. Hal ini bisa membuat orang tidak bisa bertahan untuk berjalan sesuai dengan tujuan awal.

Hari ini kepada kita disajikan bacaan tentang Yesus dan para murid yang masuk ke desa orang Samaria. Pada umumnya kalau mendengar kata “orang Samaria” yang langsung terbayang adalah orang yang baik hati, yang menolong korban perampokan dengan penuh cinta kasih, bahkan sampai merelakan uangnya untuk pengobatan orang tersebut. Itulah orang Samaria sebagaimana digambarkan Yesus. Namun, hari ini kisahnya beda sekali. Orang-orang Samaria menolak Yesus dan para murid-Nya. Alasan penolakan adalah karena mereka sedang menuju ke Yerusalem. Injil hari ini menunjukkan bahwa ada perubahan gambaran tentang orang Samaria, dari orang yang begitu baik menjadi orang yang tidak ramah.

Yesus mengarahkan pandangan dan perjalanan-Nya menuju ke Yerusalem. Yerusalem adalah tempat penggenapan, tempat di mana Ia akan mengalami penderitaan untuk memberi teladan dan menyempurnakan karya penyelamatan. Yesus tahu apa konsekuensi pergi ke Yerusalem, yakni hinaan, salib, penderitaan, bahkan kematian. Walau begitu, Ia tetap setia dengan tujuan awal, yaitu melaksanakan kehendak Bapa. Juga ketika orang-orang Samaria menolak-Nya karena rencana-Nya ke Yerusalem, Yesus tetap pergi ke sana. Ketika dua murid-Nya jengkel dengan sikap orang Samaria dan berniat membinasakan mereka, Yesus tetap tenang. Ia pergi menuju ke Yerusalem dengan hati damai dan sukacita, bukan dengan dendam dan kemarahan.

Yesus, walau harus menghadapi penderitaan dan kematian, tetap setia menuju ke Yerusalem untuk menyempurnakan karya penyelamatan. Prapto, walau digoda dengan daya pikat sepak bola, tetap setia menuju “ke Yerusalem,” yaitu melanjutkan perjalanan mengantar pakaian kepada para pelanggan. Bersama dengan Yesus, kita pun diajak untuk setia menuju “ke Yerusalem,” yaitu melakukan kehendak Allah untuk melakukan kebaikan-kebaikan dengan hati damai dan sukacita.