Yudas: Pahlawan atau Pengkhianat? (4)

548

Yudas Bersalah?

Mereka yang melihat Yudas sebagai pahlawan tidak akan menyalahkan Yudas, tetapi mereka yang melihat Yudas sebagai pengkhianat akan mengatakan bahwa Yudas sungguh-sungguh telah melakukan kesalahan besar. Yang lebih penting daripada sekadar menyalahkan atau membela Yudas adalah melihat duduk perkaranya dengan lebih jernih. Orang perlu memahami apa yang sesungguhnya mendorong Yudas menyerahkan Yesus ke tangan para musuh-Nya.

Menurut Matius, Yudas harus dipersalahkan karena menjual gurunya. Menurut Lukas, Yudas tidak bisa dipersalahkan karena ia melakukan semua itu karena kerasukan Iblis. Namun, setelah mencermati pengkhianatan Yudas dalam konteks yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa Yudas memang bersalah karena mengambil tindakan yang keliru. Didorong oleh pengharapan bahwa Yesus akan bertindak sebagai Mesias seperti yang ia mengerti, Yudas menyerahkan Yesus ke tangan para musuh-Nya.

Berkaitan dengan pandangan yang membela Yudas, masih ada pertanyaan lain yang perlu dijawab: Kalau Yudas tidak berkhianat, apakah Yesus akan dapat menebus manusia dari kuasa dosa? Satu hal yang pasti adalah bahwa Allah telah mengirim Putra-Nya ke dunia untuk melakukan penebusan. Tanpa pengkhianatan Yudas pun dapat diyakini bahwa Yesus dapat menebus manusia, entah bagaimana caranya. Namun, yang telah terjadi adalah bahwa Yudas, salah seorang murid Yesus, melakukan kesalahan dan Allah mempergunakan kesalahan itu sebagai bagian dari karya penyelamatan.

Peristiwa penebusan tidak bergantung pada Yudas, tetapi pada Allah yang mengutus Yesus dan pada Yesus yang setia melaksanakan kehendak Bapa. Hal ini ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik, ”… Allah dalam penyelenggaraan-Nya yang maha kuasa malahan dapat mengambil kebaikan dari kejahatan moral yang disebabkan oleh makhluk-Nya … Dari kejahatan moral paling buruk yang pernah dilakukan, yakni penolakan dan pembunuhan Putera Allah oleh dosa semua manusia, Tuhan dalam kelimpahan rahmat-Nya mengerjakan kebaikan yang paling besar: pemuliaan Kristus dan penebusan kita. Tetapi karena itu, sesuatu yang jahat tidak pernah akan menjadi sesuatu yang baik” (KGK 312).***