Tuhan Memanggilmu untuk Berbuah Melimpah

Minggu, 8 Oktober 2017 – Pekan Biasa XXVII

147

Matius 21:33-43

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”

***

Salah satu tema sentral bacaan-bacaan hari ini adalah perihal kebun anggur. Tuhan mempercayakan kebun anggur-Nya untuk dikelola dan dikerjakan dengan baik sehingga bisa mendatangkan hasil yang berguna. Bukan manusia tetapi Tuhanlah pemilik ladang itu.

Kita bersyukur karena diberikan mandat oleh Tuhan untuk menjadi pekerja di kebun anggur-Nya. Tuhan yang kita imani memang luar biasa. Keberhasilan kita mengerjakan mandat Tuhan ditentukan oleh kesediaan kita untuk membuka diri bagi-Nya. Ini artinya kita diminta untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat dan tujuan hidup kita. Menutup mata dan telinga terhadap Tuhan sesungguhnya adalah sejenis pemberontakan. Oleh karena itu, hasil dari pengelolaan kita terhadap kebun tersebut mesti dipersembahkan kepada Tuhan dan bisa dinikmati oleh semakin banyak orang.

Pemberontakan yang dikisahkan dalam Injil hari ini sesungguhnya memperlihatkan karakter dasar kita yang sering berlaku egois, yakni hidup terlepas atau terpisah dari Tuhan sendiri. Inilah persis yang disebut dosa, yakni menolak untuk berada dalam persekutuan dengan Tuhan, sang Pemilik ladang kehidupan kita. Injil mengingatkan kita agar kita tinggal dalam kasih-Nya. Hanya dengan hidup dan tinggal di dalam Yesus, kita akan menghasilkan buah yang berlimpah.

Saudara-saudari sekalian, bertobatlah. Tinggallah dalam kasih Tuhan.