Motivasi Berbuat Baik

Kamis, 19 Oktober 2017 – Hari Biasa Pekan XXVIII

666

Lukas 11:47-54

“Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”

Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.

***

Yesus mengecam para ahli Taurat, orang-orang yang menyelidiki Kitab Suci secara saksama, dengan kata-kata yang keras, yakni “celakalah.” Mengapa bisa demikian? Menyelidiki Kitab Suci dan membangun makan nabi-nabi adalah tindakan yang benar, mulia, dan baik. Jika demikian, mengapa harus mendapatkan kecaman? Kiranya bukan tindakan mereka yang pertama-tama menjadi objek kecaman Yesus, melainkan mentalitas yang ada di balik tindakan-tindakan itu.

Seperti orang Farisi yang dikecam sebelumnya, para ahli Taurat merasa bangga dengan perbuatan mereka. Mereka sampai mencanangkannya di depan umum, dan dengan demikian menempatkan diri mereka sebagai orang suci. Karena sudah melakukan perbuatan-perbuatan saleh, mereka pikir merekalah orang-orang yang pantas memperoleh keselamatan. Jelaslah bahwa dalam hal ini mereka mengandalkan perbuatan pribadi dan mengabaikan belas kasih Allah.

Mereka yang telah menyelidiki Kitab Suci dengan saksama seharusnya tidak jatuh dalam dosa ini. Mereka yang telah mendalami Kitab Suci seharusnya sampai pada pengertian yang mendalam akan belas kasih Allah yang terukir di dalam kitab-kitab yang mereka baca. Huruf-huruf di situ jangan dipakai untuk menghukum dan mengutuk ketidaktahuan banyak orang, melainkan hendaknya sungguh untuk menghadirkan rahmat dan keselamatan bagi semua.

Membangun makam para nabi sungguh merupakan perbuatan yang mulia, yakni sebagai tanda penghormatan bagi mereka yang dipanggil menjadi penyambung lidah Allah. Namun, bukan motivasi itu yang menjadi dasar tindakan para ahli Taurat. Mereka hanya ingin mendapatkan pengakuan bahwa mereka orang yang baik dan saleh. Mereka tidak bermaksud memperlihatkan kebaikan Allah, melainkan kelebihan diri sendiri.

Lebih parah lagi, para ahli Taurat adalah pemegang kunci pengetahuan yang mendalam akan Allah dan belas kasih-Nya sebagaimana terlukis dalam sejarah keselamatan Israel dan dalam warta para nabi. Semuanya telah diwariskan dalam tradisi tulisan bagi seluruh kaum Israel. Namun, pada waktu itu, tidak semua orang memiliki akses kepada Kitab Suci. Hanya mereka yang belajar saja yang boleh menafsirkan kesaksian akan kebesaran Allah tersebut. Sayangnya, para ahli Taurat justru menjadi penghalang. Akses bagi orang biasa menuju sumber kesaksian akan kerahiman Allah mereka kunci. Para ahli Taurat tampaknya lebih senang menaruh beban ke atas pundak saudara-saudari mereka daripada mendorong orang-orang itu untuk mengalami kebaikan Allah. Mentalitas ini sungguh tidak terpuji.

Dalam konteks inilah kita diajak untuk memahami kecaman Yesus terhadap para ahli Taurat. Dalam kesempatan ini, kita juga diajak untuk merefleksikan semua karya dan kebaikan kita. Apakah semua itu dibuat atas dasar dorongan untuk memberi kesaksian akan belas kasih Allah yang kita alami? Apakah tindakan kita itu demi kebaikan sesama dan demi kemuliaan nama Tuhan? Ataukah kita berbuat baik terdorong oleh keinginan untuk semakin membesarkan pengakuan akan diri kita?