Babi-babi Kesurupan (2)

“Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” (Mrk. 5:12)

279

Setelah badai reda…

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita mesti melihat kisah ini secara utuh, jangan hanya terfokus pada babi-babi saja. Markus tampaknya menghubungkan kasus babi ini dengan perikop sebelumnya: Yesus meredakan angin ribut di Danau Galilea (Mrk. 5:35-41). Di tengah Danau Galilea, badai yang ditimbulkan oleh roh jahat – karena masyarakat menganggap danau dan laut dihuni oleh roh jahat – melanda perahu yang ditumpangi Yesus dan para murid. Dengan kuasa-Nya, Yesus meredakan amukan badai, Ia mengalahkan roh jahat yang mengancam nyawa murid-murid-Nya. Kini serangan roh jahat terjadi lagi di daratan, dan kali ini lebih hebat karena setan yang dihadapi Yesus jumlahnya ribuan. Nah, mampukah Yesus mengalahkan mereka?

Mari kita perhatikan terlebih dahulu lokasi terjadinya peristiwa ini. Meskipun terjadi ketidaksepakatan di antara para penginjil – Markus dan Lukas (Luk. 8:26) menyebut Gerasa, sedangkan Matius Gadara (Mat. 8:28) – yang jelas, lokasi yang dimaksud terletak di sebelah timur Danau Galilea, wilayah yang dihuni bangsa-bangsa bukan Yahudi. Karena terdiri dari sepuluh kota, wilayah ini disebut Dekapolis. Karena itu, inilah untuk pertama kalinya dalam Injil Markus Yesus masuk ke daerah orang asing. Ia bahkan langsung membuat mukjizat di situ.

Saat mendarat di tepi danau, Yesus disambut oleh seorang yang kerasukan roh jahat. Kondisi orang ini digambarkan begitu menyedihkan dan mengerikan. Roh jahat amat sangat menguasai dirinya, sehingga dia bertingkah layaknya orang gila: berteriak-teriak ke sana kemari dan memukuli dirinya sendiri dengan batu. Belenggu dan rantai yang berkali-kali dipasang guna menjinakkannya sama sekali tidak berguna. Karena menakutkan, ia pun jadi terasing dari sesama, apalagi orang ini tinggal di pekuburan di atas bukit, tempat yang oleh masyarakat dianggap berbahaya. Daerah asing, orang asing, roh jahat, kuburan, dan nanti para babi, bagi orang Yahudi jelas sudah bahwa kenajisan benar-benar mewarnai perikop ini.

Berhadapan dengan Yesus, roh jahat yang ada dalam diri orang itu tidak mau takluk begitu saja. Perlawanan terjadi ketika Yesus mengusirnya pergi. Roh jahat itu berkata, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” Sejumlah ironi muncul di sini: roh jahat itu menyambut Yesus, menyembah-Nya, dan mengakui-Nya sebagai Anak Allah, tetapi tidak mau taat kepada-Nya; ia mengatakan “demi Allah,” sebuah ungkapan yang digunakan dalam eksorsisme (pengusiran setan), untuk menolak pengusiran itu sendiri; ia menyebut Allah untuk melawan Anak Allah! Namun, yang terutama menjadi masalah di sini adalah kenapa roh jahat itu masih bisa membangkang setelah diusir Yesus? Apakah ini tandanya Yesus kurang berkuasa?

(Bersambung)