Jeritan Keadilan dalam Surat Yakobus (1)

350

Surat Yakobus kurang mendapat perhatian dalam studi akademis ataupun pemberitaan, mungkin karena dipandang kurang memiliki bobot teologis. Namun demikian, surat ini memiliki daya tarik yang kuat bagi orang banyak karena berbicara tentang isu-isu yang dekat dengan pengalaman hidup. Surat ini sarat akan hikmat dan nasihat praktis. Kadar relevansinya terasa tinggi, antara lain karena perhatiannya yang besar terhadap orang miskin yang disingkirkan dan peringatannya yang keras terhadap orang sombong yang suka menindas. Kita akan mempelajari pokok tersebut dengan meneliti beberapa perikop yang berhubungan dengan itu dan bertanya tentang aktualitasnya untuk dunia kita sekarang.[1]

Nasib yang terbalik (Yak. 1:9-11)

Dalam bagian pembukaan surat Yakobus, minat akan tema keadilan sudah tampak. Dalam Yak. 1:9i ditemukan suatu paralelisme antitetis tentang saudara yang miskin dan orang yang kaya. Keduanya diajak untuk berbangga, tetapi dengan alasan yang bertolak belakang. “Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi, dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.” Istilah “saudara yang rendah” (ho adelphos ho tapeinos) menunjukkan bahwa Yakobus tidak berbicara tentang orang miskin pada umumnya, tetapi tentang anggota jemaat yang dalam kemiskinannya percaya kepada Tuhan. Sementara itu, “orang kaya” di sini dapat menunjuk kepada semua orang kaya, entah termasuk jemaat atau tidak.

Saudara miskin – yang mudah dipandang rendah dan ditindas, tetapi dalam kerendahan hatinya percaya kepada Allah – diajak agar berbangga bukan atas kerendahan[hati]nya, tetapi atas martabat tinggi yang diberikan kepadanya oleh Allah, sebab ia adalah orang pilihan Allah dan diberi janji akan dibenarkan dan ditinggikan oleh-Nya.[2] Sebaliknya, orang kaya yang mengandalkan harta miliknya yang besar diajak – dengan bahasa yang ironis – untuk berbangga atas kerendahannya, atau lebih tepat, perendahan yang akan dialaminya. Ia akan lenyap, sama seperti bunga di ladang.

Dalam antitesis miskin-kaya ini, sisi negatif mendapat tekanan. Ayat 11 mengembangkan dan mempertajam kiasan bunga yang lenyap di ayat 10c, “Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap” (ay. 11). Rumput dan bunga yang berkembang dengan subur selama musim hujan pada awal musim kemarau secara mendadak layu dan gugur. Nasib yang sama menimpa orang kaya di tengah perjalanan bisnisnya (bdk. Yak. 4:13-17). Ia akan tiba-tiba lenyap dan kehilangan segala sesuatu. Seandainya Yakobus di sini menimba dari Yes. 40:6-8 (juga 1Ptr. 1:24), ia hanya menggunakan sisinya yang negatif dan bukan pesan positif bahwa firman Tuhan bertahan untuk selamanya. Yang bertahan di sini, atau lebih baik dikatakan dipertahankan oleh Allah, adalah manusia beriman yang rendah hati.

Ayat-ayat pembukaan ini menggambarkan suatu pembalikan nasib orang miskin dan orang kaya seperti yang sering ditemukan dalam Injil Lukas. Demikianlah terjadinya keadilan Tuhan terhadap manusia.

Dalam bagian pokok atau korpus surat Yakobus, masalah kaya-miskin diangkat tidak kurang dari tiga kali: sekali pada awal (Yak. 2:1-13) dan dua kali pada akhir (Yak. 4:13-17; 5:1-6). Posisinya di kedua ujung itu (inclusio) menunjukkan pentingnya tema ini bagi Yakobus.[3] Pembahasannya bernada hidup dan berbentuk percakapan dengan lawannya (diatribe). Pengarang menyapa orang-orang kaya dengan “kamu” (Yak. 5:1; bdk. 4:13; 2:4, 6). Sapaan itu tidak berarti bahwa surat dialamatkan kepada orang-orang kaya. Jemaat Yakobus kiranya kebanyakan miskin dan menderita penindasan. Kepada mereka yang susah itu, pengarang memberi hiburan dan peneguhan dengan menampilkan dirinya dalam percakapan tegas dengan orang kaya yang menindas mereka.

(Bersambung)

 

[1] Dimuat di Forum Biblika 21 (2007): 23-33 dengan judul “Upah yang Kamu Tahan dari Buruh: Jeritan Keadilan dalam Surat Yakobus.”

[2] E. de Vries, Jakobus: Een praktische Bijbelverklaring, TST, Kampen: Kok, 1996, hlm. 34i.

[3] Patrick J. Hartin, “Come now, you rich, weep and wail…” (James 5:1-6), Journal for Theology for Southern Africa 84 (1993): 58.