Tempat yang Paling Rendah

Sabtu, 4 November 2017 – Peringatan Wajib Santo Karolus Borromeus

412

Lukas 14:1, 7-11

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Latar sosio-religius yang dominan dalam cerita-cerita Perjanjian Baru adalah perjamuan/makan bersama. Dalam Injil Lukas, Yesus sering sekali ikut pesta dan dijamu orang, sampai-sampai Ia dicap “pelahap dan peminum” (Luk. 7:34). Perjamuan bersama lazimnya berfungsi untuk membentuk jati diri kelompok sekaligus menciptakan batas-batas sosial. Dalam perjamuan biasanya ada batas dan tingkatan: siapa tamu VIP, siapa “kepala meja,” siapa undangan biasa, di mana meja dan kursi untuk pejabat, di mana tempat untuk para petinggi, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, siapa teman makan, dan sebagainya.

Yesus “makan bersama” dengan orang-orang berdosa (Zakheus dan kawan-kawan) dan orang banyak. Artinya, Ia menerima mereka dalam satu persekutuan yang baru, persekutuan dalam keluarga Bapa. Dengan itu Yesus sekaligus mengacaukan batas-batas yang sudah baku dalam masyarakat Yahudi pada zaman-Nya, yang dengan ketat membuat batas-batas pemisah antara mereka yang dianggap pendosa dan orang yang dipandang saleh.

Dalam Injil hari ini tampak bagaimana Yesus mengacaukan “peringkat sosial” yang berlaku dalam sebuah perjamuan pada masa itu. Melihat para undangan berlomba mencari tempat terhormat, Yesus memberi peringatan tegas lewat sebuah cerita singkat. Dalam sebuah perjamuan, tempat utama sebenarnya sulit dipastikan sebelum semua tamu datang. Jika terlalu cepat memilih tempat utama, orang justru rentan dipermalukan, sebab mungkin masih ada tamu yang lebih terhormat yang akan datang. Karenanya, sebaiknya setiap tamu mulai dengan mengambil tempat tidak terhormat. Dengan itu, dia justru berkesempatan menjadi tamu terhormat, yakni jika tuan rumah mempersilakan dia mendudukinya.

Yang dikatakan Yesus tidak biasa bagi mentalitas zaman itu, di mana setiap orang berlomba-lomba mencari dan menduduki tempat terhormat. Yesus menegaskan bahwa mentalitas ini tidak ada gunanya, bahkan membuat seseorang sangat rentan untuk dipermalukan di hadapan orang lain. Pada akhirnya, yang menentukan kehormatan seseorang adalah sang tuan rumah saja. Karena itu, sebaiknya setiap orang memilih tempat yang paling rendah. Prioritas pilihan ini membuat semua undangan berada pada level yang sama. Secara tidak langsung di sini tercermin jemaat yang diinginkan Yesus, yakni jemaat yang berlomba mencari tempat terendah, bukan tempat terhormat. Mengapa? Karena kehormatan mereka tidak diperoleh dari penilaian sendiri ataupun dari ukuran-ukuran dunia ini.

Selanjutnya, Yesus mengangkat cerita “profan” ini ke level rohani: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Dengan ilustrasi perjamuan, Yesus mau menunjukkan cara kerja dan hikmat Allah. Dalam kerajaan-Nya, Allah akan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang biasanya dianut dan diperebutkan di dunia. Kehormatan sejati dalam Kerajaan Allah tidak diperoleh dari usaha sendiri atau promosi diri. Sebagai tuan rumah, Allah sendirilah yang akan memberi kedudukan dan kehormatan bagi siapa saja yang tidak berlomba-lomba mencari kehormatan di mata dunia dan bersedia memilih tempat terendah.