Jeritan Keadilan dalam Surat Yakobus (4)

141

Teriakan buruh tani (Yak. 5:1-6)

Serangan paling tajam terhadap orang kaya disimpan Yakobus pada bagian akhir. Setelah menyingkapkan praktik perdagangan yang serakah dan angkuh, ia mengarahkan tuduhannya kepada praktik penindasan tuan-tuan tanah terhadap pekerja-pekerja mereka. Rumusannya kembali bergaya protes kenabian. Yakobus sepertinya berdebat dengan kaum kaya tetapi – seperti sudah dikatakan sebelumnya – belum tentu mereka itu sidang pembacanya. Sabda kenabian ini lebih dimaksudkan untuk membawa hiburan bagi mereka yang ditindas daripada mengubah kaum penindas.

Orang-orang fasik yang kejam itu langsung dikonfrontasikan dengan nasib akhir mereka yang penuh kesusahan, “Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!” (Yak. 5:1). Tidak ada harapan sedikit pun bagi para penindas yang kaya raya. Karena itu, mereka langsung dihadapkan dengan satu-satunya yang masih dapat mereka lakukan: menangis dan meratap. Ayat ini menyerupai nubuat Yesaya yang mengajak Babel menjelang hari pengadilan, “Merataplah, sebab hari TUHAN sudah dekat, datangnya sebagai pemusnahan dari Yang Mahakuasa” (Yes. 13:6).

Yakobus menampilkan orang kaya sebagai pelaku dua macam kejahatan: pertama, hidup mewah dan kedua, penindasan. Yang pertama dibicarakan dalam ayat 2-3 yang menyoroti harta kekayaan seperti pakaian mewah, emas, dan perak. Memiliki dan menyimpan puluhan atau bahkan ratusan baju, mantel, dan sepatu menjadi lambang kekayaan di dunia kuno maupun sekarang. Lebih lagi banyak hiasan emas dan perak! Sama seperti Yesus dalam Khotbah di Bukit (Mat. 6:19), Yakobus memandang semuanya itu sebagai kesia-siaan. “Pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat.”

Dengan mengatakan “telah/sudah,” Yakobus mengantisipasi sesuatu yang pasti akan terjadi. Kekayaan mereka pasti tidak akan bertahan, sebaliknya akan dimakan habis dan juga memusnahkan mereka sendiri. “Karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir” (ay. 3). Hidup mewah mereka bukan hanya tak bertahan, tetapi juga membawa kehancuran bagi mereka. Semua kemewahan yang tidak wajar itu menjadi bukti melawan mereka yang menyebabkan mereka ditolak Tuhan dalam pengadilan akhir.

Dalam ay. 4, Yakobus memihak pada buruh tani yang mengalami penindasan paling berat dari kalangan kaya. Para petani kecil dari awal sudah sulit bersaing dengan tuan-tuan tanah yang umumnya hidup jauh di kota dan selalu dalam posisi unggul karena luasnya lahan, kemajuan teknologi, penguasaan pasar, dan kolusi dengan kaum berkuasa. Dari waktu ke waktu, petani kecil terpaksa meminjam uang dari tuan tanah dan akhirnya tidak dapat membayar bunga tinggi dan mengembalikan utang. Akibatnya, tanahnya diambil alih oleh orang yang sudah mempunyai kelebihan. Para nabi Israel sudah sejak dahulu mencela keadaan dan praktik seperti itu.

“Celakalah kamu yang membeli rumah-rumah dan menyerobot ladang-ladang untuk menambah milikmu! Tak lama lagi habislah tempat untuk orang lain dan hanya kamulah yang tinggal di negeri itu” (Yes 5:8).

(Bersambung)