Tulus dalam Berbuat Baik

Selasa, 14 November 2017 – Hari Biasa Pekan XXXII

475

Lukas 17:7-10

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

***

Saudara-saudari sekalian mungkin pernah mengenal istilah do ut des (yang artinya: saya memberi supaya mendapat balasan). Balasan atau imbalan tidak selalu berbentuk barang atau suatu pemberian, tetapi juga bisa dalam bentuk pujian. Sering kali seseorang dengan bangga berkata kepada orang-orang yang ditemuinya, “Saya biasa memberi sumbangan, biasa menjadi donatur, dan saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa!” Kalau saja ia tidak mengatakan hal itu ke mana-mana, mungkin kita bisa mengatakan bahwa orang ini benar-benar tulus. Namun, dengan memberitakan tentang kebaikan dirinya kepada setiap orang yang ia jumpai, bisa kita katakan bahwa dia telah mendapatkan upahnya, yakni pujian dan penghargaan.

Demikianlah pujian dan penghargaan sering kali menjadi motivasi orang dalam berbuat baik. Jika demikian, adakah orang yang berbuat baik dengan tulus?

Injil hari ini mengajarkan kepada kita, murid-murid Yesus, untuk mengupayakan ketulusan dalam berbuat baik. Tulus artinya ikhlas, tanpa pamrih, dan tidak mengharapkan imbalan atau balas jasa. Ketulusan dalam berbuat baik berarti sungguh-sungguh mengupayakan kebaikan demi orang lain. Untuk itu Yesus mengemukakan perumpamaan tentang seorang pelayan yang menjalankan tugas dan kewajibannya. Bagi si pelayan, itu bukanlah hal yang istimewa sebab tugas tersebut memang sudah menjadi kewajibannya. Karena itulah ia mengerjakannya tanpa mengharapkan hadiah maupun pujian.

Melakukan perbuatan baik, tanpa ada motivasi apa pun untuk kepentingan diri sendiri, bukanlah hal yang mudah. Keinginan untuk dipuji dan dihargai sering kali menjadi motivasi terselubung dalam berbuat baik. Karena itu, Yesus kali ini mengajak kita untuk benar-benar menjadi orang yang tulus, bersih dari segala keinginan-keinginan untuk dipuji dan dihargai.

Saudara-saudari yang terkasih, semoga kita selalu mampu mendeteksi dan memurnikan motivasi serta keinginan-keinginan terdalam kita dalam berbuat baik.