Mengucap Syukur dan Berterima Kasih

Rabu, 15 November 2017 – Hari Biasa Pekan XXXII

267

Lukas 17:11-19

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

***

Pastinya kita masih ingat bahwa sewaktu kecil, kita selalu diajari oleh orang tua untuk berterima kasih. Ketika ada yang memberi kita permen, misalnya, dengan lembut ibu membantu kita membuka telapak tangan dan mengajari kita untuk berkata, “Terima kasih.” Tahu untuk berterima kasih adalah pelajaran yang luar biasa bagi kita. Dari sinilah kita akhirnya belajar bersyukur akan berkat Tuhan dari kebaikan hati orang-orang di sekitar kita.

Injil hari ini berkisah tentang sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus. Dari sepuluh orang kusta yang sembuh itu, hanya ada satu orang yang kembali kepada Yesus untuk mengucap sykur dan berterima kasih.

Orang mampu mengucap syukur dan berterima kasih karena dia menyadari bahwa apa yang terjadi padanya adalah melulu anugerah atau pemberian, bukan hak yang secara otomatis diterima. Merasa diri berhak akan sesuatu hal sering kali mematikan rasa dan kehendak untuk mengucap syukur dan berterima kasih.

Memang manusia sering kali mengedepankan hak. Namun, berjalan, bernafas, dan hidup bukanlah hak seseorang. Itu semua adalah anugerah dan pemberian dari Allah. Ketika bangun pagi, kita kerap kali secara otomatis langsung melakukan aktivitas, lalai untuk sejenak bersyukur kepada-Nya. Kita lupa bahwa malam hari sewaktu tidur bisa saja nyawa ini terlepas dari raga kita. Kita lupa bahwa nafas dan hidup kita pada hari itu tidak terjadi begitu saja, melainkan adalah anugerah dari-Nya.

Saudara-saudari yang terkasih, sebagaimana orang tua mengajari kita sewaktu kecil untuk selalu berterima kasih, Injil hari ini menegaskan kembali keutamaan itu. Murid-murid Yesus harus tahu berterima kasih. Namun, rupanya ini juga bukan merupakan hal yang mudah. Mengucap syukur dan berterima kasih bukanlah hal yang mudah dilakukan ketika kita senang dan sehat, apalagi ketika kita sedang sengsara dan menderita. Mengucap syukur membutuhkan kemampuan untuk melihat anugerah dari setiap kejadian, dan kesadaran bahwa itu semua merupakan anugerah Tuhan yang diberikan-Nya secara cuma-cuma kepada kita.