Iman yang Tidak Akan Meninggalkan Kita

Selasa, 28 November 2017 – Hari Biasa Pekan XXXIV

146

Lukas 21:5-11

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: “Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka: “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.”

***

Ketika membaca Injil hari ini, saya teringat akan seorang tokoh bernama Victor Frankl, penulis buku Man’s Search for Meaning. Ia menceritakan bahwa daya tahan yang dimiliki orang-orang yang menderita di dalam kamp konsentrasi berasal dari cinta. Sumber cinta ini adalah keluarga, komitmen terhadap kehidupan beragama, dan komitmen mereka terhadap negara.

Dari situ kita dapat belajar bahwa kita semua membutuhkan “sesuatu yang besar” untuk hidup kita dan juga untuk kematian kita. Sesuatu yang besar itu bisa jadi keluarga, iman, ataupun harapan kita.

Injil hari ini mengajak kita untuk tetap tinggal bersama dengan Tuhan. Kita diajak untuk menemukan dan menumbuhkan iman yang tidak dapat dipatahkan ataupun diambil dari diri kita. Yesus menegaskan bahwa kita harus punya daya tahan, agar mengalami kemenangan dalam hidup ini. Daya tahan seperti itu dapat terbentuk kalau kita mempunyai cinta yang mendalam terhadap keluarga, terhadap hidup keagamaan, dan terhadap segala harapan kita.

Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa ada banyak saudara-saudari kita umat kristiani yang menderita akibat iman mereka. Ia mengajak kita untuk mengagumi daya tahan iman orang-orang itu. Bukan hanya itu, marilah kita juga bertanya pada diri kita masing-masing: sejauh mana kita sungguh memaknai hidup kita atas iman kristiani yang kita miliki?