Keterbukaan pada Undangan Tuhan

Kamis, 30 November 2017 – Pesta Santo Andreas

132

Matius 4:18-22

Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

***

Awal Oktober lalu saya memberikan rekoleksi untuk para katekis di paroki. Saya bertanya kepada sejumlah katekis, “Mengapa bapak dan ibu mau menjadi katekis?”

Seorang ibu kemudian menceritakan kisah panggilannya sebagai seorang katekis. Awalnya ia bukanlah seorang Katolik, tetapi sudah sejak SMA tertarik untuk menjadi Katolik. Ia dibaptis setelah belajar agama secara perlahan-lahan, dan ia pun lalu menjadi seorang Katolik yang aktif. Kemudian seorang imam suatu ketika memintanya mengajar agama untuk beberapa orang katekumen. Ia sebenarnya merasa diri tidak mampu untuk mengajar. Namun, kesungguhan hati dan perasaan dicintai Tuhan menguatkannya, sehingga ia bisa bertahan menjadi katekis hingga sekarang ini dalam usia 65 tahun. Menurutnya, tugas seorang katekis bukan hanya mengajar, tetapi juga memberikan teladan kepada orang-orang yang tergerak untuk menjadi murid Kristus. Tindakan jauh lebih berbunyi daripada kata-kata.

Injil hari ini mengisahkan panggilah awal beberapa rasul, terlebih Andreas yang secara khusus kita peringati. Dari kisah ini ada dua aspek yang amat mendasar, yaitu tindakan Yesus dan tindakan para murid. Yang dilakukan Yesus adalah mengundang sejumlah orang untuk mengikut-Nya. Yang dilakukan para murid adalah memberi tanggapan terhadap undangan tersebut.

Undangan dari Yesus dapat ditujukan kepada siapa saja, termasuk kepada kita saat ini. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah: apakah kita mau menanggapi undangan tersebut? Menanggapi undangan berarti menaruh komitmen sebagaimana yang dilakukan oleh sang katekis yang saya ceritakan di atas. Nah, saudara-saudari sekalian, apa jawaban Anda?