Maria, Teladan Ziarah Penantian

Jumat, 8 Desember 2017 – Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda

158

Lukas 1:26-38

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

***

Hari ini umat Katolik di seluruh dunia merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Hari raya ini diletakkan di tengah-tengah masa penantian kedatangan Tuhan dengan maksud untuk mengajak seluruh umat beriman belajar meneladani Maria dalam menantikan kedatangan sang Penebus.

Dalam bacaan pertama (Kej. 3:9-15, 20) digambarkan kisah kejatuhan manusia pertama, dalam hal ini Hawa, serta firman Allah tentang permusuhan abadi antara keturunan perempuan itu dan ular. Tergambarlah di sini peperangan sepanjang masa antara dunia kegelapan dan terang. Manusia terlihat tidak berdaya, dan inilah cikal bakal kerinduan dan pengharapan akan penyelamatan Allah. Adven dan rencana inkarnasi Allah bertitik tolak dari sini. Allah berencana dan mencanangkan inkarnasi untuk menolong umat-Nya.

Rencana penyelamatan tersebut direfleksikan dan disadari dengan sungguh-sungguh oleh Rasul Paulus (bacaan kedua hari ini, Ef. 1:3-6, 11-12). Dalam pembukaan suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam terhadap rencana dan karya penyelamatan oleh Allah dalam sejarah manusia. Ia menulis, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di surga … sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa…” Paulus bahkan berbicara tentang sentralitas Kristus dalam hubungannya dengan janji keselamatan, “Aku katakan ‘di dalam Kristus’ karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan.”

Janji Allah untuk menyelamatkan dunia sebagaimana direnungkan oleh Paulus dan diberitakan dalam kitab Kejadian tadi secara konkret terlaksana dan dihidupi oleh Maria dalam seluruh pengalaman imannya.