Rendah Hati Seperti Yohanes

Minggu, 17 Desember 2017 – Hari Minggu Adven III 

1837

Yohanes 1:6-8, 19-28

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

***

Hari ini adalah hari Minggu Adven yang ketiga, yang biasanya disebut Minggu Gaudete atau Minggu Sukacita. Sabda Tuhan selama pekan ketiga ini hendak mengarahkan Gereja untuk senantiasa bersukacita menyambut kedatangan sang Juru Selamat. Pada hari ini, kita akan merenungkan figur Yohanes Pembaptis yang menjadi model penantian kita akan kedatangan Yesus Kristus.

Yohanes Pembaptis adalah utusan Allah yang bertugas menyiapkan jalan bagi kedatangan Yesus ke dunia ini. Dia dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang “terang.” Yohanes sendiri bukanlah terang itu, tetapi dia memberi kesaksian tentangnya. Karena itu, ketika orang Yahudi menanyakan kepadanya, “Siapakah engkau?” Yohanes dengan terus terang berkata, “Aku bukan Mesias.” Ketika ditanya lebih lanjut, Yohanes akhirnya menyingkap identitas dirinya. Dia adalah “suara yang berseru-seru di padang gurun.”

Sikap dan tindakan Yohanes ini sungguh penuh dengan kerendahan hati. Dia menyadari bahwa dirinya hanya seorang utusan yang bertugas memberi kesaksian tentang terang yang sesungguhnya. Dia adalah pembuka jalan bagi kedatangan Mesias yang dinanti-nantikan. Meskipun demikian, tidak sedikit pun Yohanes merasa kecil hati. Kerendahan hati Yohanes semakin tampak ketika ia menyatakan bahwa dirinya tidak layak untuk sekadar membuka tali kasut sang Mesias. Sungguh luar biasa. Kerendahan hati seperti ini pastilah mengalir dari lubuk hati yang paling dalam!

Zaman sekarang banyak orang mencari nama atau pujian. Mereka berlomba-lomba ingin menjadi nomor satu. Baiklah kita menyadari bahwa kita dipanggil untuk meneladan sikap dan kerendahan hati Yohanes dalam memberi kesaksian tentang orang lain. Kerendahan hati yang tulus akan mengantar kita kepada sikap bakti dalam melayani sesama dengan gembira.

Sosok Yohanes mengajarkan kepada kita bahwa jalan untuk sampai kepada terang sejati adalah jalan kerendahan hati. Karena itu, marilah kita menantikan kehadiran Putra Allah, sang Penyelamat kita, dengan bersikap rendah hati. Semoga teladan Yohanes Pembaptis ini dapat menerangi kita, sehingga kita bisa menjadi saksi terang bagi orang lain.