Yusuf, Bapa Jasmani Yesus

Senin, 18 Desember 2017 – Hari Biasa Khusus Adven

255

Matius 1:18-25

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

***

Bacaan Injil yang kita renungkan hari ini berkisah tentang pribadi Yusuf yang menjadi ayah angkat bagi Yesus. Dikatakan bahwa sewaktu Maria bertunangan dengan Yusuf, Maria sudah mengandung dari Roh Kudus, dan hal ini tidak diketahui oleh Yusuf sebelumnya. Oleh sebab itu, Yusuf secara diam-diam ingin menceraikan Maria. Namun, Yusuf adalah seorang yang tulus hati, sehingga tidak mau mencemarkan nama Maria di depan umum. Dia tidak mau memperkarakan Maria, sebab jika Maria ketahuan hamil di luar nikah, dia bisa dikenai hukuman mati sesuai adat Yahudi yang berlaku pada saat itu.

Yusuf berada dalam posisi yang sangat sulit. Meskipun demikian, ia tetap tenang dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Rencananya itu ia pertimbangkan masak-masak. Pada saat itulah malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Yusuf anak Daud, janganlah takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat itu kepadanya.

Yusuf sungguh pribadi yang rendah hati. Walaupun dia sudah punya rencana sendiri, yakni untuk menceraikan Maria, akan tetapi setelah mendengarkan pesan dari malaikat Tuhan, ia bersedia mengubah rencananya itu. Semuanya demi kebaikan Maria dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Sungguh tepat bahwa ia dipilih menjadi bapa jasmani Yesus, sosok yang nantinya akan memberi nama kepada bayi laki-laki yang dilahirkan oleh Maria.

Yusuf dengan demikian adalah orang yang taat kepada kehendak Tuhan. Sebagai orang yang tulus hati, dia tidak hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Dia senantiasa mencari solusi yang terbaik bagi dirinya, juga bagi orang lain. Kendati dalam situasi yang sulit, demi terlaksananya kehendak ilahi, ia rela menyerahkan segala rencana dan kehendaknya kepada Tuhan. Demikianlah Juru Selamat akhirnya hadir di bumi melalui kehadiran Yesus di tengah keluarga Maria dan Yusuf.

Bagaimana dengan kita semua? Sebagai seorang Kristen, sudahkah kitab bersikap tulus dan rendah hati? Apakah kita sanggup mengambil keputusan yang tepat apabila kita menghadapi kesulitan di dalam kehidupan keluarga, di tempat kerja, atau di mana pun kita berada? Apakah kita rela mengubah rencana yang sudah kita persiapkan secara matang agar sesuai dengan kehendak Tuhan?

Semoga kita mampu membuka diri kita terhadap rencana-rencana Tuhan yang jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Belajar dari tokoh Yusuf yang tulus dan taat, semoga kita menjadi tempat yang layak untuk menghadirkan keselamatan bagi sesama, seperti keluarga Maria dan Yusuf.