Air yang Mematikan, Menghidupkan, dan Menyucikan (2)

Makna Air dalam Alkitab

224

Air kosmis dalam pandangan dunia

Entah kita membaca mitos-mitos penciptaan yang kuno atau berpegang pada mitos baru yang disebut Big Bang, dalam keduanya air memainkan peranan vital. Tanpa bantuan ilmu modern, manusia kuno sudah sadar bahwa air merupakan unsur kosmis yang paling mendasar. Karena itu, air berperan sentral dalam pandangan dunia masyarakat kuno.

Seperti pada banyak bangsa lain, kisah penciptaan Israel bertolak dari sebuah samudra raya yang masih kaotis (Kej. 1:2). Samudra itu dibelah dua oleh Tuhan Allah agar di tengahnya ada ruang bagi bumi dan segala yang hidup di atasnya. Berbeda dengan mitos-mitos bangsa-bangsa di sekitar Israel, dalam Alkitab hanya terdapat kenangan yang samar-samar saja akan perjuangan seorang ilah perkasa yang mengalahkan naga laut (Mzm. 74:13; Yes. 59:9-10) yang bernama Lewiatan (Yes. 27:1) atau Rahab (Yes. 30:7).[1]  Dengan sabda perintah-Nya saja, Allah mampu memisahkan air yang ada di atas dari air yang ada di bawah.

Penciptaan dan pemeliharaan bumi bagi umat Israel sangat berkaitan dengan kedaulatan Allah atas samudra raya. Air yang ada di atas ditahan oleh Allah dengan memasang suatu kubah yakni cakrawala (Kej. 1:6), dan air yang ada di bawah ditahan-Nya dengan memberi batas kepada gelombang laut (Ayb. 38:11). Namun, bumi dapat ditiadakan lagi oleh Allah dengan membiarkan samudra kaotis masuk dan menutupi bumi kembali, seperti yang kita baca dalam kisah air bah pada zaman Nuh: “Terbelahlah segala mata air samudra raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit” (Kej. 7:11; 8:2). Israel percaya bahwa ini hukuman Allah atas kejahatan manusia, tetapi percaya juga bahwa hukuman ini membuka jalan kepada suatu bumi yang baru. Bumi tersebut selanjutnya dihuni oleh Nuh dan keturunannya serta segala makhluk hidup yang diselamatkan bersama mereka. Semuanya dilindungi terhadap ancaman air bah samudra raya di masa depan melalui perjanjian dari pihak Allah dengan segala makhluk (Kej. 9:15; Yes. 54:9).

Seperti semua manusia pramodern, orang Israel melihat diri mereka hidup di tengah air kosmis yang ada di atas maupun di bawah bumi. Bumi manusia dilingkupi oleh samudra raya. Manusia hanya dapat mengharapkan agar Allah senantiasa melindungi mereka terhadap samudra kaotis itu, tetapi juga memohon agar Ia memberi mereka bagian dalam air yang ada di atas dan yang ada di bawah bumi. Mereka mengharapkan agar Allah menurunkannya ke bumi melalui awan dan hujan, dan senantiasa memancarkannya bagi mereka melalui sumber-sumber air yang senantiasa mengalir, menghidupkan segala makhluk, dan menyuburkan bumi.

Kekurangan hujan dan air terus menggoda Israel untuk mengikuti pandangan dunia orang Kanaan.  Tetangga mereka itu menyembah Baal, dewa angin dan hujan, ilah yang dipercayai telah menjinakkan lautan dan sungai, lalu mampu menyediakan air hujan yang begitu dibutuhkan untuk pertanian, peternakan, dan hidup manusia sendiri. Namun, nabi-nabi Israel percaya dan mewartakan bahwa Allah sendiri adalah Tuhan atas angin dan hujan (Mzm. 29; Yer. 10:13). “Mintalah hujan dari Tuhan pada akhir musim semi! Tuhanlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikan-Nya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang” (Za. 10:1). Hujan adalah anugerah dari Tuhan, Allah Israel. Beberapa abad kemudian Yesus pun melihatnya demikian, tetapi melepaskan pemberiannya dari kondisi moral orang: “Bapamu yang di surga … menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45).

(Bersambung)

 

[1] Leland Ryken (ed.), Dictionary of Biblical Imagination, Downers Grove: Intervarsity,  1998, entry ‘water,’ pp. 929-32; Clements, ‘mayim,’ in TDOT VIII, 282-3.