Mewartakan Kabar Sukacita

Rabu, 27 Desember 2017 – Pesta Santo Yohanes

453

Yohanes 20:2-8

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.

***

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Yohanes, rasul dan pengarang Injil. Kita tidak tahu pasti apakah Yohanes Rasul – murid yang dikasihi Yesus – dan penulis Injil Yohanes adalah orang yang sama. Namun, dalam tradisi Gereja, pesta keduanya dirayakan bersamaan.

Ada beberapa informasi tentang Yohanes Rasul dalam Injil. Ia adalah salah satu dari tiga rasul yang menyaksikan Yesus yang berubah rupa di atas gunung. Dia juga bersama Yesus ketika Dia dalam pergulatan batin-Nya berdoa kepada Bapa di Taman Getsemani. Yohanes juga berdiri di bawah salib bersama dengan Maria, ibu Yesus. Ia menjadi saksi kebangkitan Yesus, dan dikatakan bahwa “ia melihat dan percaya.” Dalam tradisi Gereja, Yohanes yang diceritakan dalam Injil diyakini sebagai orang yang sama dengan penulis Injil Yohanes dan surat-surat Yohanes. Yohanes meninggal di Efesus dalam usia lanjut.

Poin penting yang bisa kita petik dari kisah hidup Yohanes berdasarkan tradisi Gereja adalah bahwa ia menuliskan Injil dan surat-suratnya berdasarkan pada apa yang dia lihat, alami, dan rasakan bersama Yesus. “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan….” (1Yoh. 1:1). Perjumpaan pribadi dengan Yesus membawa sukacita dalam dirinya, dan sukacita itu pulalah yang dia bagikan kepada kita melalui tulisan-tulisannya agar kita mengalami pengalaman serupa.

Mengikuti jejak Yohanes, kita mendapat tugas mewartakan Injil di tengah dunia modern ini. Pewartaan ini hendaknya dibawakan secara lembut, yakni dengan berbagi sukacita dengan sesama yang bersumber dari perjumpaan dengan Yesus.

Paus Fransiskus menyerukan ini dalam anjuran apostolik Sukacita Injili. Menurutnya, bahaya terbesar dalam dunia modern sekarang ini adalah kesedihan dan penderitaan yang diakibatkan oleh hati yang rakus, mengejar kesenangan, dan hati nurani yang tumpul. Setiap kali kehidupan batin kita terjebak dalam kepentingan diri sendiri, tidak ada tempat lagi untuk orang lain, tidak ada ruang lagi bagi orang miskin. Penyakit ini telah menyebar dalam kehidupan masyarakat, Gereja, dan keluarga. Oleh karena itu, setiap orang yang telah mengalami perjumpaan dengan Yesus dipanggil untuk berbagi sukacita di tengah-tengah masyakat yang semakin egois.

Saudara-saudari sekalian, marilah kita menjadi pewarta kabar sukacita bagi sesama.