Dimulai dari Keluarga

Jumat, 29 Desember 2017 – Hari Kelima dalam Oktaf Natal

155

Lukas 2:22-35

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

***

Pada bulan November lalu, para imam, suster, dan bruder dari Vietnam menampilkan kehidupan keluarga-keluarga Katolik di sana dalam rangka misa inkulturasi dan malam budaya Vietnam. Ada tradisi religius yang kuat dalam keluarga-keluarga mereka, misalnya menghadiri misa harian pada pukul empat pagi atau pukul enam sore, doa bersama pagi dan malam dalam keluarga, doa rosario dan devosi-devosi lainnya, juga membaca dan merenungkan bacaan harian dalam keluarga. Tidak mengherankan jika banyak panggilan tumbuh dari keluarga-keluarga Katolik di Vietnam.

Bacaan Injil hari ini menampilkan kuatnya religiositas keluarga Maria dan Yusuf. Mereka membawa Yesus kecil ke Bait Allah di Yerusalem. Mereka pergi ke sana untuk mempersembahkan dan menguduskan Dia bagi Allah seturut hukum Taurat Musa. Kewajiban bagi para orang tua untuk menguduskan anak laki-laki sulung bisa dibaca dalam kitab Keluaran (Kel. 13:2, 13). Kendati Dia adalah Tuhan, Yesus juga manusia biasa yang tetap tumbuh dalam asuhan dan keteladanan Maria dan Yusuf (lih. Luk 2:51).

Kisah Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus ke Bait Allah menginspirasi keluarga-keluarga kristiani. Keluarga menjadi tempat penting dan pertama bagi seorang anak bagaimana ia akan bertumbuh kembang kelak. Seorang anak akan memiliki iman yang kuat jika memiliki pengalaman bertumbuh dalam keluarga yang beriman. Keteladanan dan perlakuan orang tua terhadap anak juga akan mempengaruhi dan membentuk karakter sang anak. Karena itu, kehidupan beriman maupun akhlak yang baik dimulai dari keluarga.

Ada sebuah syair yang bagus untuk kita renungkan bersama, judulnya Anak Belajar dari Cara Dia Diperlakukan:

Jika anak selalu dikritik, ia akan belajar untuk selalu menyalahkan. Jika anak dididik dalam kekerasan, dia akan belajar untuk memusuhi. Jika anak selalu diejek, ia akan tumbuh menjadi pemalu.

Jika anak dididik hidup dalam toleransi, ia akan tumbuh menjadi penyabar. Jika anak selalu diyakinkan, ia akan memiliki rasa percaya diri. Jika anak dihargai, ia tumbuh menjadi orang yang bisa menghargai. Jika anak dibina dalam iman, ia akan memiliki iman. Jika anak tumbuh dalam penerimaan dan persahabatan, ia akan belajar mencintai.