Belajar dari Hana

Sabtu, 30 Januari 2017 – Hari Keenam dalam Oktaf Natal

807

Lukas 2:36-40

Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

***

Kita memasuki hari-hari terakhir tahun ini. Mengakhiri satu tahun perjalanan hidup, biasanya kita membuat refleksi. Kita mengingat dan merenungkan peristiwa-peristiwa yang sudah kita lalui, sekaligus merancang harapan ke depan. Kita juga menelisik apa yang sudah dan yang belum kita buat.

Injil hari ini menampilkan Hana sebagai figur sentral. Meskipun cerita tentang Hana cukup singkat dan hanya ada di bagian ini saja, tetapi ada beberapa karakter beliau yang bisa kita teladani.

Pertama, Hana adalah seorang janda. Janda adalah representasi kaum lemah dan menderita. Kendati menderita, tetapi Hana tidak merasakan bahwa penderitaan itu membuat hidupnya menjadi pahit. Penderitaan memiliki dua sisi bagi kehidupan kita. Ia bisa membuat kita menjadi pesimis, marah, dan memberontak terhadap Allah, tetapi juga bisa menjadikan kita lebih menerima, lembut, dan simpatik. Kepahitan bisa menghancurkan iman, tetapi juga bisa meneguhkannya. Hana dalam penderitaannya tidak lari meninggalkan Allah, tetapi justru datang mendekat kepada-Nya. Bahan refleksi bagi kita: menjadi seperti apakah kita ketika mengalami penderitaan?

Kedua, Hana tidak pernah kehabisan harapan. Perempuan ini sudah berumur 84 tahun waktu itu. Kita bisa bayangkan, raganya tentu sudah tidak perkasa lagi. Namun, kelemahan fisik tidak menghancurkan pengharapannya. Sering dalam usia senja orang merasa ditinggalkan, tidak diperhatikan, merasa tidak berguna lagi, dan sebagainya. Perasaan-perasaan negatif seperti ini bisa menghancurkan pengharapan dalam hati orang yang sudah berusia lanjut. Orang bisa menjadi pesimis dan tidak memiliki semangat hidup. Hana, meskipun sudah tua, tetap berkarya bagi Tuhan. Kendati yang ia lakukan hanya kecil dan sederhana, hal itu menumbuhkan iman dan harapan yang besar dalam hidupnya. Bahan refleksi bagi kita: karya apa yang sudah kita persembahkan bagi Allah?

Ketiga, Hana tidak pernah berhenti beribadah. Dia menghabiskan waktunya di Bait Allah bersama-sama dengan umat Allah. Mengikuti perayaan Ekaristi dan juga sakramen-sakramen yang lain merupakan bagian penting dalam hidup orang Katolik. Manakah yang lebih sering Anda katakan, “Aku akan memberikan waktuku untuk mengikuti Ekaristi,” atau sebaliknya, “Aku akan mengikuti Ekaristi jika punya waktu”?

Keempat, Hana berdoa tiada henti. Doa yang dimaksud di sini adalah doa secara pribadi. Doa secara pribadi memberi kekuatan baginya. Karena selalu berkomunikasi dengan Tuhan, Hana tidak merasakan penderitaan dan kesendirian sebagai pil pahit yang harus ditelan dan menghancurkan semangat hidupnya. Bahan refleksi bagi kita: seberapa sering kita berbicara dengan Tuhan secara pribadi melalui doa?

Bersama Hana, marilah kita menelisik masa lalu kita dan mulai menata hidup baru.