Menderita bersama Tuhan (6)

Markus 8:31-38

117

Narasi tragis Injil Markus: Mengikuti Kristus dalam penderitaan

Secara garis besar, Mrk. 8:31-38 bisa dibagi menjadi dua bagian: (1) Pada ayat 31-33, Yesus mulai mengajar para murid tentang penderitaan yang harus dialami-Nya; Ia memarahi Petrus karena sang murid keliru dalam memahami jati diri-Nya; (2) Pada ayat 34-38, Yesus mengalihkan sasaran-Nya kepada orang banyak, tidak hanya para murid; Ia menegaskan apa arti mengikuti-Nya; di sini tampak bahwa kemuridan menjadi perhatian utama bagian ini secara keseluruhan.

Oleh Markus, Yesus di sini digambarkan sebagai guru yang mengajar murid-murid-Nya. Yang tampil hanya Yesus dan murid-murid-Nya, sebab bagian ini merupakan kelanjutan dari bagian sebelumnya (Mrk. 8:27-30). Perhatian tertuju kepada sang Guru. Yesus mengajar dengan terus terang, dengan berani, dengan blak-blakan. Kata parrēsia yang digunakan oleh Markus memang berarti demikian. Dengan kata lain, Ia tidak lagi menggunakan kiasan atau perumpamaan seperti biasa dalam pengajaran-Nya.[1] Namun, ajaran Yesus ternyata tidak mendapat respons sebagaimana diinginkan. Petrus merasa tidak terima. Tanpa basa basi dan rasa malu, “si batu” ini menarik Yesus ke samping dan memarahi-Nya. Berani sekali! Siapa lagi murid yang bisa berbuat demikian selain Petrus?

Sepertinya sang murid ingin mengoreksi sang Guru. Alasannya bisa diduga: tidak mungkin Mesias akan menderita seperti yang diungkapkan Yesus. Tidak mungkin! Dalam pikiran Petrus, Mesias adalah orang kuat, orang besar. Mesias ini adalah Mesias politis! Apa arti mukjizat-mukjizat yang sudah dilakukan Yesus selama ini? Mesias akan membebaskan bangsa Israel dari belenggu penjajahan yang tengah dialami mereka. Yesus, yang diakui Petrus sebagai Mesias, akan mengembalikan martabat Israel dengan menumpas para musuh. Jika demikian, ajaran sang Guru kali ini salah besar.

Bagaimana tanggapan Yesus terhadap reaksi Petrus itu? Yesus berpaling (dari Petrus) dan memandang murid-murid-Nya. Ia lalu balik memarahi Petrus. Yesus berkata, “Enyahlah Iblis.” Kata-kata Yesus ini dalam teks berbahasa Yunani berbunyi hupage opisô mou, yang jika diterjemahkan secara harfiah berarti: “Pergilah ke belakang-Ku.” Petrus yang kali ini Ia sebut Iblis diminta meninggalkan egonya dan mengikuti ajaran Yesus. Mengapa Yesus menyebut murid-Nya itu Iblis? Sebab, Petrus tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. Manusia hanya memikirkan apa yang menjadi kepentingannya di dunia, seperti kekuasaan, kemenangan, kesejahteraan, kemerdekaan, jabatan, uang, dan lain-lain. Apa yang dipikirkan manusia adalah kemenangan atas musuh. Namun, bagi Allah yang utama adalah kemenangan atas kuasa dosa.

(Bersambung)

[1] Adela Yarbro Collins, Mark: A Commentary, ed. Harold Attridge, Hermeneia (Minneapolis: Fortress Press, 2007), 406.