Intensitas Penggunaan Alkitab di Kalangan Keluarga Kristen (7)

Pandangan dan Pengalaman Katolik

81

Liturgi Ekaristi yang merupakan satu kesatuan ibadat terdiri dari dua bagian pokok, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi (Sacrosanctum Concilium 56). Keduanya tak terpisahkan, melainkan terjalin satu dengan yang lain dan saling melayani. Liturgi Sabda mewartakan dan menjelaskan apa yang dirayakan dalam Liturgi Ekaristi, sedangkan Liturgi Ekaristi memenuhi dan menampakkan apa yang diwartakan dalam Liturgi Sabda.

Pusat Liturgi Sabda adalah Kitab Suci (Lectionarium) yang diberi penghormatan khusus karena memuat sabda Allah dan adalah sabda Allah (Dei Verbum 24). Kitab Suci menjadi tanda kehadiran Allah sendiri yang datang di tengah umat-Nya dan bersabda kepada mereka. Liturgi Sabda disusun sebagai suatu dialog antara Tuhan dan umat-Nya. Dalam bacaan-bacaan (Bacaan I dari Perjanjian Lama, Bacaan II dari surat-surat, dan bacaan III dari Injil) dan dalam homili, Allah hadir dan menyapa umat-Nya. Umat menanggapi sapaan Allah dalam Mazmur Tanggapan, syahadat, dan dalam doa umat.

Dalam dokumen tentang liturgi dikatakan: “Agar di meja sabda Tuhan disajikan lebih banyak kepada kaum beriman, maka perbendaharaan Kitab Suci harus dibuka lebar-lebar, sehingga dalam rangka beberapa tahun, bagian-bagian terpenting dari Kitab Suci dibacakan bagi umat” (Sacrosanctum Concilium 51). Melalui bacaan-bacaan Kitab suci (dan keterangan seperlunya) dalam liturgi, umat dibiasakan dengan segala kekayaan sabda Allah dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Mendengarkan bersama sabda Tuhan dalam liturgi akan membentuk dan membina umat Allah. Mendengarkan segala kekayaan sabda Tuhan akan juga menghasilkan umat yang lebih Bible-minded.

Pembacaan dalam liturgi dan pembacaan Kitab Suci dalam keluarga dapat saling mempengaruhi dan saling memperkaya. Bacaan liturgis mempermudah pembacaan Kitab Suci dalam keluarga. Bacaan liturgis yang disertai keterangan seperlunya dalam homili menolong keluarga Katolik dalam hal pengertian dan pengetahuan bila keluarga tersebut membaca Kitab Suci sendiri. Sebaliknya, partisipasi yang lebih aktif dan lebih sempurna dalam perayaan liturgis akan lebih mudah bila keluarga membaca Kitab Suci secara teratur. Orang akan lebih memahami dan meresapi karya penyelamatan yang diwartakan dalam Kitab Suci dan dirayakan dalam liturgi. Begitulah dapat dikatakan bahwa terjadi semacam interaksi kontinu antara pembacaan Kitab Suci dalam liturgi dan pembacaan Kitab Suci dalam keluarga.

(Bersambung)