Apa Kata Kitab Suci tentang Korupsi (10)

338

Dalam Alkitab, siapa saja yang bisa menjadi teladan kita dalam memupuk semangat antikorupsi?

Ada banyak, misalnya saja nabi-nabi Perjanjian Lama. Ketidakadilan yang merajalela di tengah masyarakat menjadi salah satu fokus perhatian mereka. Para nabi mengecam berbagai macam praktik korupsi sebagai perbuatan yang menyengsarakan sesama manusia dan menodai perjanjian dengan Allah. Amos, misalnya, atas nama Allah berkata, “Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang” (Am. 5:12). Ia menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan, “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Am. 5:24). Senada dengan Amos, Yesaya menegaskan bahwa keselamatan hanya akan dinikmati oleh orang-orang tertentu, yakni “orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya supaya jangan menerima suap” (Yes. 33:15).

Yesus tentu saja merupakan tokoh antikorupsi. Ia mengecam keras praktik korupsi yang dilakukan oleh kaum Farisi, ahli Taurat, dan tokoh-tokoh agama pada masa itu. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (Mat. 23:14; Mrk. 12:40). Bagi Yesus, keadilan, kesetiaan, dan belas kasihan terhadap orang-orang kecil merupakan keutamaan yang harus dilaksanakan oleh setiap orang (bdk. Mat.  23:23).

Tuhan sendiri digambarkan oleh Alkitab sebagai hakim yang adil. Ia selalu membuat keputusan dengan bijaksana, sebab suap tidak dikenal oleh-Nya dan bujuk rayu tidak akan menggoyahkan diri-Nya. “Sebab Tuhan, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap; yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian” (Ul. 10:17-18). Korupsi tentu saja merupakan perbuatan yang tidak berkenan di hadapan-Nya.***