Apa Kata Kitab Suci tentang Ragi (4)

5478

Ragi dalam tradisi kristiani

Istilah ragi dalam tradisi kristiani jelas dipahami dalam arti kiasan. Istilah itu digunakan untuk melukiskan sesuatu yang kecil, tetapi berpengaruh besar. Paulus menggunakannya untuk melukiskan kekuatan tersembunyi yang jahat, menyebar, dan merusak orang. “Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi membuat seluruh adonan mengembang? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebagaimana kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih” (1Kor. 5:6-7). Kekuatan yang jahat dan merusak di sini dikaitkan dengan dosa percabulan di dalam jemaat Korintus.

Melalui kiasan ragi, Paulus ingin mengatakan bahwa sikap toleran jemaat Korintus terhadap salah seorang yang melakukan kejahatan percabulan dapat merusak seluruh komunitas, baik dari dalam maupun dari luar.[1] Jika mereka bersikap toleran dan permisif terhadap orang yang melakukan percabulan, pengaruhnya dapat merusak seluruh anggota jemaat, sama seperti ragi meresap dalam seluruh gumpalan adonan. Satu-satunya cara untuk mempertahankan integritas mereka sebagai adonan yang baru, umat yang telah dikuduskan untuk Allah karena kurban kematian dan kebangkitan Kristus, adalah dengan menyingkirkan pengaruh kekuatan jahat dalam diri orang yang melakukannya. Mereka harus menghindari dosa dan pengaruhnya dengan cara hidup sesuai dengan perintah dan kehendak-Nya.

Kiasan ragi digunakan lagi oleh Paulus untuk melukiskan ajaran yang berbahaya dan merusak dari pewarta lain. “Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapa yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi? Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia yang memanggil kamu. Sedikit ragi sudah membuat seluruh adonan mengembang” (Gal. 5:7-9). Dengan kiasan itu seperti yang dikutipnya juga dalam 1Kor. 5:6-7, Paulus berbicara tentang hal-hal kecil yang menjadi besar, serta mendominasi situasi dan hidup jemaat. Hal-hal kecil di sini dikaitkan dengan ajaran yang salah dari pewarta lain yang berlatar belakang Kristen-Yahudi yang menyebabkan seluruh jemaat dapat disesatkan.[2]

Kehadiran beberapa pewarta lain ke tengah jemaat Galatia berpotensi besar untuk mengubah wajah jemaat Galatia sama seperti sedikit ragi sudah bisa membuat adonan mengembang. Melalui kiasan ragi, Paulus ingin menyatakan bahwa seluruh anggota jemaat dapat disesatkan oleh ajaran para pewarta lain jika mereka membiarkan diri terus dibujuk untuk mengikuti tuntutan melakukan sunat dan peraturan hukum Taurat lainnya sebagai syarat untuk menjadi pengikut Kristus dan dibenarkan di hadapan Allah.[3] Tuntutan ini ditolak Paulus karena tidak seorang pun dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat. Manusia dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus Yesus (Gal. 2:16).

Jadi, ragi dalam tradisi kristiani perdana, seperti juga dalam pemikiran Yahudi, sering dipahami sebagai sebuah kiasan yang bersifat negatif untuk menunjuk pada pengaruh buruk yang berdampak besar dan luas bagi kehidupan rohani jemaat. Kiasan ragi dalam surat Galatia dipakai Paulus untuk menunjuk kepada ajaran guru-guru palsu ataupun para pewarta lain yang mungkin jumlahnya sedikit, tetapi pengaruhnya dapat menyesatkan kehidupan seluruh jemaat. Para pewarta ini mewajibkan orang bukan Yahudi untuk melakukan sunat dan peraturan Taurat lainnya agar bisa menjadi pengikut Kristus dan dibenarkan di hadapan Allah. Hal ini berbeda dengan ajaran dan kebijakan Paulus yang tidak mewajibkan sunat dan ketetapan hukum Taurat lainnya kepada orang bukan Yahudi.***

 

Kepustakaan

Byrne, Brendan. Lifting the Burden: Reading Matthew’s Gospel in the Church Today. Collegeville: Liturgical Press, 2004.

Davies, Margaret Matthew. Sheffield Phoenix Press, 2009.

Donahue, John R. The Gospel in Parable: Metaphor, Narrative, dan Theology in the Synoptic Gospels. Philadelphia: Fortress Press, 1988

Gardner, Richard B. Matthew. Scottdale: Herald Press, 1991.

Harrington, Daniel J. The Gospel of Matthew. Collegeville: Liturgical Press, 1991.

Hendrickx, Herman. The parables of Jesus. London: Geoffrey Chapman, 1986.

Longenecker, Richard N. Galatians. Dallas, Texas: Word Books, 1990.

Martin, George. The Gospel According to Mark: Meaning and Message. Chicago: Loyola Press, 2005.

Montague, George T., First Corinthians. Grand Rapids: Baker Academic, 2011.

Martyn, J. Louis. Galatians. New York: Doubleday, 1997.

Vanderkam, James C. “Leaven” dalam Katharine Doob Sakenfeld (ed.). The New Interpreter’s Dictionary of the Bible. Nashville: Abingdon Press, 2008.

 

[1] George T. Montague, First Corinthians (Grand Rapids: Baker Academic, 2011), 96.

[2] Richard N. Longenecker, Galatians (Dallas, Texas: Word Books, 1990), 231.

[3] J. Louis Martyn, Galatians (New York: Doubleday, 1997), 475.