Keteguhan Iman: Keraguan Maria dan Zakharia (8)

158

Malaikat menampakkan diri pada waktu yang sangat istimewa. Waktu itu Zakharia sedang melakukan pendupaan untuk meyakinkan umatnya akan kehadiran Allah di atas altar dan perhatian Allah bagi doa-doa mereka. Imam melakukan pedupaan untuk dirinya sendiri dan umat. Dia seharusnya tidak boleh ragu. Bagi seorang imam, meragukan kehadiran Allah pada waktu mendupai altar merupakan suatu pelanggaran besar. Imam seperti itu telah menodai tempat suci.

Sebagai bentuk perhatian Allah atas doa-doa umat-Nya, malaikat menampakkan diri kepada Zakharia. Namun, Zakharia malah meragukan kabar gembira yang disampaikan malaikat baginya, sehingga tindakan pendupaannya menjadi tidak bermakna. Tindakan dan iman Zakharia tidak sejalan. Hal ini merupakan contoh klasik dari apa yang terjadi di dalam doa kita. Kita sering berdoa, tetapi kita masih ragu apakah doa kita didengarkan oleh Allah atau tidak.

Keraguan-raguan iman Zakharia dinilai sebagai suatu pelanggaran yang tidak dapat ditoleransi. Penilaian ini dapat dipahami dengan baik kalau kita bandingkan dengan sikap seorang imam dalam perayaan Ekaristi. Begitu banyak umat akan merasa kecewa dan patah semangat jika seorang iman yang merayakan Ekaristi tidak meyakini ajaran-ajaran dasar Gereja tentang kehadiran Yesus dalam perayaan itu. Seorang imam seharusnya meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Allah campur tangan dalam setiap peristiwa, tempat, dan situasi apa pun. Kewajiban seorang imam menuntut iman yang kokoh kepada Allah. Jika seorang imam meragukan kehadiran dan campur tangan Allah, bagaimana mungkin ia dapat membimbing umat kepada pengalaman akan Allah?

(Bersambung)