Tuhan, Mengapa Engkau Mengasihi Mereka? (6)

Universalitas Kasih Allah dalam Kitab Yunus

789

Yunus melupakan identitas dirinya

Yunus tampil sebagai satu-satunya tokoh yang sikapnya berbanding terbalik dengan tokoh-tokoh lain, yakni para awak kapal, orang Niniwe, bahkan ikan besar, lembu sapi, kambing domba, pohon jarak, dan ulat. Dalam kitab ini, sikap dan tindakan yang muncul dari pihak Yunus hampir semuanya menunjukkan ketidakmengertian dirinya akan Allah. Yunus tidak mengenal Allah. Mengingat Yunus adalah orang Israel, dan orang Israel adalah umat pilihan Allah, keadaan ini boleh dibilang tragis dan ironis. Lebih lagi Yunus digambarkan sebagai seorang nabi. Bagaimana mungkin nabi tidak mengenal Dia yang mengutusnya? Bagaimana mungkin pula orang seperti Yunus bisa dipanggil menjadi nabi?

Di bagian awal, saat kisah baru saja dimulai, Yunus langsung ditampilkan sebagai seorang pembangkang dan pemberontak. Ia enggan menaati perintah Allah untuk pergi ke Niniwe. Menanggapi panggilan Allah, para nabi umumnya memang merasa ragu.[1] Keraguan ini didasari pertimbangan bahwa seorang nabi memikul tugas yang sangat berat, sementara mereka ini adalah pribadi-pribadi yang memiliki banyak kelemahan. Keengganan Yunus dengan demikian bukan sesuatu yang khas. Namun, berbeda dengan yang lain, nabi satu ini menunjukkan penolakannya secara vulgar, ekstrem, dan terang-terangan. Ketika Allah mengutusnya, tidak sedikit pun terlontar bantahan dari mulutnya. Ia langsung kabur melarikan diri.

Yunus juga merupakan sosok keras kepala yang malas bertobat. Setelah dimuntahkan dari perut ikan, ia kembali diperintahkan Allah untuk pergi ke Niniwe (Yun. 3:1-2). Kali ini perintah tersebut dituruti olehnya. Tanpa membantah, pergilah Yunus ke kota itu. Namun, tunggu dulu. Yunus tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menanggapi firman Allah. Apakah ini berarti bahwa dirinya sudah memahami kehendak Allah, menaati-Nya dengan tulus, dan pergi ke Niniwe dengan rela? Ataukah dalam hati ia merasa segan dan terpaksa? Sampai di sini hal itu belum dapat dipastikan. Suasana batin sang nabi baru akan kita ketahui belakangan, yakni ketika ia marah besar melihat Allah tidak jadi memusnahkan Niniwe. Kemarahan ini menunjukkan bahwa Yunus belum sampai kepada pertobatan yang sejati. Meskipun sudah ada kemajuan mengingat kali ini ia tidak lagi menolak perintah Allah, pertobatan Yunus sayangnya masih setengah hati.

Selain itu, sebagai anggota umat pilihan dan abdi Allah, aneh sekali bahwa jalan pikiran Yunus bertentangan dan tidak selaras dengan Allah yang memilih dan mengutusnya. Allah itu adil dan penuh kuasa, tetapi juga pengasih, penyayang, dan murah hati.[2] Orang Niniwe berdosa, maka Ia berniat menghukum mereka. Namun, kasih dan kebaikan Allah seketika muncul manakala melihat orang-orang itu bertobat dengan sungguh. Ia pun berkenan memberikan pengampunan. Allah bukanlah pribadi yang kejam. Firman-Nya kepada orang Niniwe melalui Yunus sebenarnya adalah ajakan untuk mengubah cara hidup.

Jalan pikiran Yunus berseberangan dengan itu. Menurut Yunus, apa pun yang terjadi, orang Niniwe harus tetap dihukum. Tidak ada yang bisa mencegah kehancuran Niniwe, termasuk pertobatan. Dengan itu wibawa Allah akan terjaga, sebab terbukti bahwa Ia senantiasa konsisten dengan keputusan yang ditetapkan-Nya. Tanpa konsistensi yang demikian, masih menurut sudut pandang Yunus, segala sesuatunya sia-sia belaka. Sia-sia Allah dulu murka kepada Niniwe; sia-sia pula Yunus berjerih payah jauh-jauh datang ke situ. Sebagai nabi, Yunus mungkin juga merasa malu kalau nubuatnya ternyata tidak terpenuhi. Namun, bukankah kehancuran Niniwe sama artinya dengan jatuhnya korban jiwa yang tidak terhitung banyaknya? Yunus sama sekali tidak peduli akan hal itu.

Yunus dengan demikian mewakili sikap orang-orang yang tidak sungguh mengenal Allah. Sebagai anggota umat pilihan, secara teori ia mengetahui sifat-sifat Allah, sebab hal itu diajarkan secara luas dan diwariskan turun-temurun di kalangan masyarakat Israel. Namun, itu semua tidak dihayatinya, tidak juga ia usahakan untuk diteladani dan dijadikan pedoman hidup. Yunus tahu bahwa Allah itu “yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan” (Yun. 1:9), sehingga “melarikan diri, jauh dari hadapan Tuhan” (Yun. 1:10) adalah sesuatu yang tidak mungkin. Meskipun demikian, tetap saja ia berusaha kabur. Hasilnya sudah bisa ditebak. Pelarian Yunus tidak membawanya ke mana-mana. Terjadinya badai besar dan datangnya ikan besar menjadi petunjuk bahwa ke mana pun Yunus pergi, di situ Tuhan ada.

Yunus juga tahu bahwa Tuhan itu “Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya” (Yun. 4:2). Biarpun demikian, kemurahan hati Allah terhadap orang Niniwe membuatnya marah. Yunus kecewa karena tindakan Allah tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kekecewaan ini aneh dan tidak semestinya. Sebagai makhluk ciptaan dan seorang utusan, Yunus seharusnya menaati sang Pencipta dan Dia yang mengutusnya. Nabi ini malah bersikap sebaliknya dengan menuntut Allah untuk memenuhi keinginannya. Ketika hal itu tidak dituruti, ia ngambek.

Kemarahan Yunus kiranya berhubungan dengan pihak yang mendapat kemurahan hati Allah, yakni orang Niniwe. Niniwe, ibu kota Kerajaan Asyur, adalah simbol imperialisme asing yang membawa kehancuran bagi Israel. Pada tahun 721 SM, di bawah pimpinan Raja Salmaneser, Asyur menyerbu dan meruntuhkan Kerajaan Israel (wilayah utara, 2Raj. 17:1-6). Kehancuran ini sangat membekas di hati orang Israel. Mereka sangat membenci Asyur. Karena itulah Yunus enggan memenuhi perintah Allah untuk pergi ke Niniwe. Ia tidak mau menyampaikan firman Allah kepada musuh yang sangat ia benci.[3] Lebih-lebih, ada “bahaya” bahwa Allah tidak jadi menghukum orang Niniwe, mengingat Dia itu pribadi yang penyayang dan penuh kasih setia (Yun. 4:2). Menurut pendapat Yunus, Niniwe sebaiknya dihancurkan saja. Allah tidak perlu mengasihi mereka. Ia hendaknya hanya mengasihi orang Israel saja.

(Bersambung)

[1] Bdk. kisah panggilan Musa dan Yeremia (Kel. 2:23 – 4:17; Yer. 1:4-19).

[2] Mendengar rencana penghancuran Niniwe, mungkin ada yang berpendapat bahwa kisah ini menggambarkan Allah yang kejam dan suka menghukum. Perhatikan dua hal berikut. Pertama, Allah mengutus Yunus. Kalau Allah kejam, mengapa Ia mengirim orang untuk memperingatkan mereka? Akan lebih efektif kalau kota itu langsung dihancurkan saja. Kedua, ada selang waktu empat puluh hari. Kalau Allah suka menghukum, tentunya Ia tidak perlu menunggu lama. Niniwe dapat Ia musnahkan dari muka bumi dalam sekejap.

[3] Nowell, “Yunus,” 671.