Memaknai Kedatangan Tuhan melalui Adoni-Bezek (6)

Hakim-hakim 1:1-8

152

Ketika memulai pembahasan tentang narasi ini, kata-kata Adoni-Bezek menimbulkan rasa penasaran. Mengapa kata-kata penguasa Kanaan ini masuk dalam narasi? Tidak ada jawaban yang pasti, tetapi ini menarik. Satu kata menarik yang digunakan dalam perkataan Adoni-Bezek adalah “dibalaskan.” Dalam bahasa Ibrani, kata ini adalah kata kerja salam, yang berarti sehat, utuh, terpenuhi, membalaskan.[1] Kita dapat melihat di sini bahwa ucapan Adoni-Bezek memiliki fungsi reflektif. Seperti disengaja, refleksi ironis itu keluar dari mulut seorang non-Israel.

Kata salam juga bisa dilihat sebagai penanda hubungan antara narasi mini Adoni-Bezek dan kisah Abimelekh dalam bab 9. Kata kerja suv (artinya: “mengembalikan”) dipakai pada Hak. 9:56-57 dan kerap kali menyampaikan konsep pembalasan. Pengulangan jumlah tujuh puluh (“tujuh puluh raja,” Hak. 1:7; “ketujuh puluh saudaranya,” Hak. 9:56) berpengaruh pada ingatan pembaca sehingga mengaitkannya dengan kisah Adoni-Bezek. Cukuplah berdasar jika pengakuan Adoni-Bezek memiliki fungsi retoris dalam tubuh narasi yang lebih besar. Berdasarkan pengamatan serupa, Gregory Wong lebih jauh melihat bahwa Adoni-Bezek dalam pembuka kitab Hakim-hakim ini berperan sebagai protagonis utama untuk menyiapkan pembaca pada sosok Abimelekh yang lebih brutal.[2] Dengan begitu suara Adoni-Bezek menghadirkan ketegangan awal antara Allah dan Israel.

Suara tersebut tidak hanya reflektif bagi penguasa di Bezek, tetapi juga bagi Israel. Hal ini sangat mungkin menjelaskan pemunculan perkataan ini dalam narasi awal kitab Hakim-hakim. Sulit untuk mengabaikan kontras yang sengaja dihadirkan antara upaya kompromistis dari Yehuda bersama saudaranya, Simeon, dan pernyataan sang penguasa Bezek. Daniel I. Block menangkap hal yang serupa ketika mengatakan bahwa pernyataan penguasa Bezek itu sebagai pernyataan yang sarat dengan ironi.[3] Dengan apa yang dialaminya, Adoni-Bezek sepertinya menyinggung bangsa Israel yang telah menyerap pola bangsa Kanaan dalam memperlakukan tawanan.[4]

Kata kerja salam yang dipakai dalam kata-kata Adoni-Bezek menjelaskan apa yang telah diperbuat Tuhan kepadanya. Tujuannya barangkali seperti yang diungkapkan seorang ahli bahwa kisah mengenai Adoni-Bezek menggambarkan kekuatan dan keadilan Allah terhadap musuh-musuh Israel.[5] Pengamat lainnya melihat materi cerita yang sama bukan sebagai tanda kemenangan Israel melainkan peringatan betapa kekuasaan tidak untuk selamanya berada di tangan seseorang.[6] Adoni-Bezek menemukan arti di balik apa yang dialaminya. Sikap demikian tentu saja bukan khas Israel, tetapi umum di antara bangsa-bangsa di Kanaan. Berdasarkan keyakinan Adoni-Bezek, bukan Yehuda yang menumbangkannya, tetapi Allah[7]. Tidaklah keliru untuk mengenali kata-katanya itu sebagai antitesis terhadap pola perilaku Israel. Demikianlah Adoni-Bezek memaknai kekalahan yang berujung pada kehancuran yang dialaminya.

Pengamatan di atas tentu mengandaikan semacam ketajaman di pihak pembaca, misalnya dalam mengaitkan tokoh Adoni-Bezek dan Abimelekh. Namun, sebenarnya tidak usah jauh-jauh. Narasi mini tentang Adoni-Bezek boleh ditautkan dengan laporan penyerangan di mana kisah itu ditempatkan. Suara Adoni-Bezek merupakan pengakuan di tengah situasi penaklukan yang tidak mengenal ampun. Suara itu juga dimunculkan di antara kegaduhan bangsa Israel, mulai dengan pertanyaan inisiatif mereka dan upaya kompromistis Yehuda menyikapi imperatif ilahi. Barangkali pada titik ini yang mereka sebetulnya perlukan ialah keheningan untuk menantikan Tuhan.

(Bersambung)

[1] Lihat Ludwig Koehler and Walter Baumgartner, The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament, ed. Johann Jakob Stam, trans. M. E. J. Richardson, CD-ROM ed. (Leiden: Brill, 1994), BibleWorks, v.8.

[2] Gregory T. K. Wong, Compositional Strategy of the Book of Judges: An Inductive, Rhetorical Study, Supplements to Vetus Testamentum Vol. 111 (Leiden; Boston: Brill, 2006), 205.

[3] Daniel I. Block, Judges, Ruth: An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture, New American Commentary Vol. 6 (Nashville, Tenn.: Broadman & Holman, 1999).

[4] Block, Judges, Ruth.

[5] Trent C Butler, Judges, Word Biblical Commentary vol. 8 (Nashville: Thomas Nelson, 2009), 22.

[6] Niditch, Judges, 40.

[7] Kata Ibrani ʾelohîm di mulut Adoni-Bezek di sini memang ambigu. Apakah istilah itu mengacu pada Allah Israel atau ilah-ilah bangsa Kanaan?