Antara Perkataan dan Perbuatan

Selasa, 9 Januari 2018 – Hari Biasa Pekan I

95

Markus 1:21b-28

Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.

***

Yesus mulai berkeliling mewartakan Injil. Bersama para murid, Ia memasuki Kapernaum, sebuah kota di tepi Danau Galilea. Kota ini nantinya berperan penting bagi-Nya, yakni sebagai tempat tinggal sekaligus pusat penyebaran Kabar Baik.

Pada suatu hari Sabat, Yesus mengikuti ibadat di situ. Saat itu juga Ia berkesempatan mewartakan Kerajaan Allah, sebab dipersilakan tampil mengajar. Tiba-tiba saja muncul orang yang kerasukan roh jahat. Ia berteriak agar Yesus tidak mencampuri urusannya. Inilah reaksi kekuatan jahat yang berupaya melawan karya keselamatan Allah, sebab kehadiran Kerajaan Allah berarti kehancuran bagi mereka. Yesus langsung bertindak tegas. Roh jahat tersebut dihardik dan diusir oleh-Nya. Perlawanan roh jahat itu sia-sia belaka, sebab Yesus jauh lebih kuat darinya.

Melihat mukjizat itu, jemaat yang sebelumnya takjub mendengar pengajaran Yesus, kembali merasa takjub. Yesus mengajar penuh wibawa dan bertindak penuh kuasa. Perkataan dan perbuatan-Nya sama-sama mengagumkan. Kerajaan Allah tidak hanya diwartakan oleh-Nya, tetapi juga dihadirkan secara nyata.

Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa suatu pengajaran akan berdaya guna jika disertai bukti nyata. Oleh karena itu, jangan sampai kita berpuas diri karena sudah mengajarkan kasih kepada orang lain. Tanyakan dulu pada diri sendiri, apakah kita sudah mengasihi orang lain. Antara perkataan dan perbuatan memang sudah sepantasnya harus konsisten.