Sesama

Jumat, 12 Januari 2018 – Hari Biasa Pekan I

60

Markus 2:1-12

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”

***

Kegemparan terjadi ketika Yesus kembali ke Kapernaum. Masyarakat dengan antusias mengerumuni Dia di sebuah rumah. Kepada mereka, Yesus dikatakan “memberitakan firman” (seluruh perikop ini pada dasarnya memang berbicara tentang firman Yesus). Saat itu terjadilah sesuatu yang mengejutkan. Sejumlah orang menjebol atap rumah, lalu menurunkan seorang lumpuh tepat di hadapan-Nya!

Yesus menghargai tindakan tersebut sebagai tanda keteguhan iman. Ia pun mengucapkan firman pengampunan kepada orang lumpuh itu. Firman tersebut adalah isyarat terjadinya penyembuhan, sebab pada masa itu, penyakit memang dihubungkan dengan dosa. Sayangnya, ahli-ahli Taurat justru tersinggung mendengarnya. Mereka merasa Yesus telah menghujat dan merampas hak Allah.

Menunjukkan kuasa-Nya untuk mengampuni dosa, Yesus kembali berfirman dan orang lumpuh itu seketika sembuh. Terbukti, Yesus tidak mengada-ada ataupun menghujat Allah. Anak Manusia memang diberi kuasa oleh Allah untuk mengampuni dosa manusia.

Untuk sampai kepada Yesus dan dipulihkan, orang lumpuh itu membutuhkan bantuan sesama. Namun, sesama ternyata tidak selalu seindah kedengarannya. Ahli-ahli Taurat tampil sebagai sesama yang menghalangi perjuangan orang itu untuk memperoleh keselamatan. Syukurlah, di sisi lain ada sesama yang peduli dan bersedia menolongnya dengan penuh semangat.

Bagi orang-orang kecil, orang-orang yang tersingkir, terabaikan, dan membutuhkan bantuan, kita sendiri sesama yang bagaimana?