Membangun Relasi Tulus

Minggu, 13 Mei 2018 – Hari Minggu Paskah VII

54

Yohanes 17:11b-19

“Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”

***

Hari Komunikasi Sedunia tahun ini jatuh pada tanggal 13 Mei 2018. Dalam pesannya untuk memperingati momen ini, Bapa Suci Fransiskus mengajak kita untuk memberi perhatian pada berita palsu dan jurnalisme perdamaian. Bapa Suci menegaskan bahwa berita palsu terkait erat dengan penyebaran informasi tanpa berdasarkan data atau pemutarbalikan data dengan tujuan menipu dan mencurangi pembaca/permirsa/pendengar. Berita palsu disebarkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, seperti mempengaruhi keputusan-keputusan politik dan melayani kepentingan-kepentingan ekonomi. Berita palsu adalah berita bohong.

Dengan tajam Bapa Suci menegaskan bahwa pencemaran terus-menerus oleh bahasa bohong dapat bermuara pada semakin gelapnya kehidupan batin. “Orang-orang yang menipu diri dan mempercayai tipuannya sendiri akan sampai pada suatu titik di mana mereka tidak dapat lagi mengenal kebenaran di dalam diri mereka atau di sekitar mereka, dan dengan demikian mereka kehilangan rasa hormat terhadap diri mereka sendiri dan terhadap orang lain. Dan, ketika mereka tidak lagi memiliki rasa hormat terhadap diri mereka sendiri, mereka akan berhenti mencintai. Kemudian untuk menyibukkan diri dan mengalihkan perhatian dari diri mereka yang tanpa kasih, mereka mengumbar berbagai nafsu dan kenikmatan badani, serta tenggelam dalam ketamakan yang menyerupai binatang, dalam kebiasaan untuk terus-menerus berbohong kepada sesama dan diri mereka sendiri.”

Bapa Suci menambahkan bahwa penangkal mujarab terhadap virus kebohongan bukanlah strategi, melainkan masyarakat: masyarakat yang tidak serakah, masyarakat yang dimurnikan oleh kebenaran. “Dalam kekristenan, kebenaran bukan melulu suatu realitas konseptual yang berhubungan dengan bagaimana kita menilai sesuatu, menentukan sesuatu benar atau salah. Kebenaran mencakup keseluruhan hidup kita. Dalam Alkitab, kebenaran mengandung makna dukungan, solidaritas, dan kepercayaan, seperti tersirat oleh akar kata “aman,” asal usul kata “amin” dalam liturgi. Kebenaran adalah tempat di mana kita dapat bersandar agar tidak jatuh. Dalam pengertian relasional ini, satu-satunya yang dapat sungguh diandalkan dan dipercaya adalah Tuhan yang hidup. “Akulah Kebenaran (Yoh. 14:6). Kita menemukan kembali kebenaran ketika kita mengalaminya di dalam diri kita sendiri, dalam kesetiaan dan kepercayaan kepada Dia yang mengasihi kita.”

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dapat menemukan dan mengalami “Dia yang dapat kuandalkan” ketika kita menyadari bahwa diri kita diikutsertakan oleh Yesus dalam doa-doa-Nya kepada Bapa. “Saya tahu apa yang dapat saya andalkan dan akan saya andalkan karena saya percaya kepada Allah yang hidup, karena saya percaya kepada Roh Yesus Kristus, yang sekarang hidup, yang menjadi Roh Allah sendiri, yang adalah Roh Kudus.”

Dalam doa Yesus itu, kita boleh mengalami ketulusan, bukan kebohongan; kebenaran, bukan kepalsuan. “Bebas dari kepalsuan dan membangun relasi yang tulus merupakan dua unsur yang tidak boleh hilang dari kata dan perbuatan kita, agar kata dan sikap kita benar, otentik, dan dapat dipercaya. Untuk mengenal kebenaran, kita perlu mengusahakan segala sesuatu yang mendorong terbentuknya paguyuban-persaudaraan yang memajukan kebaikan, bukan yang mengasingkan, memecah belah, dan menyingkirkan.