Kedatangan Tuhan

Selasa, 5 Juni 2018 – Peringatan Wajib Santo Bonifasius

104

2 Petrus 3:12-15a, 17-18

(Betapa suci dan salehnya kamu harus hidup) yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat.

Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

***

Petrus berbicara tentang kedatangan Tuhan yang dipertanyakan oleh orang-orang yang mengejek jemaat. Kedatangan Tuhan tidak kunjung terjadi. Kalau tampaknya Tuhan lambat datang, persoalannya tidak terletak pada Dia. Orang tidak dapat menuduh Tuhan mengingkari janji-Nya karena perhitungan waktu Tuhan berbeda dari perhitungan waktu manusia.

Kalaupun tampaknya lambat, keterlambatan yang dirasakan manusia ini sebenarnya mengungkapkan kesabaran Allah. Ia memberikan waktu kepada manusia supaya semua orang berbalik kepada-Nya dan bertobat sehingga mereka tidak binasa. Allah tidak menghendaki mereka binasa, Ia menghendaki mereka selamat.

Mengenai saat kedatangan Tuhan itu sendiri, dikatakan bahwa Ia akan datang tiba-tiba, seperti seorang pencuri. Tidak ada yang menduga kedatangan seorang pencuri. Tiba-tiba saja ia sudah memasuki rumah dan mengambil harta benda di dalamnya. Demikianlah Tuhan akan datang pada waktu yang tidak dapat diperkirakan oleh manusia.

Kedatangan Tuhan akan diwarnai dengan kehancuran alam semesta. Langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat. Unsur-unsur dunia akan terbakar oleh nyala api. Dunia yang diwarnai oleh kejahatan manusia akan berakhir pada waktu itu. Namun, Tuhan akan menciptakan langit dan bumi yang baru. Di sanalah manusia yang hidupnya berkenan kepada Allah akan menikmati kebahagiaan abadi. Dunia baru itu akan dipenuhi oleh kebenaran karena hanya orang-orang benar yang boleh masuk ke dalamnya.

Saudara-saudari sekalian, Tuhan memang belum datang dan kita masih harus menantikan kedatangan-Nya. Cara menantikan Tuhan bukanlah dengan duduk diam dan tidak berbuat apa-apa. Kita harus menantikan Tuhan sebagai orang yang percaya dan penuh pengharapan. Bagaimana hal ini harus dilakukan? Yaitu dengan berlaku seperti hamba yang taat dan setia dalam perumpamaan Yesus (Mrk. 13:33-37). Ia tidak mengetahui kapan tuannya pulang, maka ia terus berjaga dan siap sedia membukakan pintu bila sewaktu-waktu tuannya datang.

Kita perlu mempersiapkan diri untuk menghadap penghakiman Allah dengan hidup suci dan saleh. Selama masih ada kesempatan, para pengikut Yesus dipanggil untuk tetap melakukan kehendak-Nya, yakni dengan mengasihi Allah dan sesama. Sampai saat terakhir pun para pengikut Yesus harus menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang mengasihi Dia dan setia kepada-Nya. Demikianlah, saat menantikan kedatangan Tuhan bukanlah alasan untuk bermalas-malasan, tetapi harus menjadi dorongan untuk mengusahakan kekudusan.

Karena itu, bagi orang-orang yang percaya kepada Kristus, kedatangan Tuhan adalah saat yang menggembirakan. Pada saat itu, kita akan berjumpa dengan Tuhan yang telah mengasihi kita dan yang kita kasihi selama hidup di dunia. Kita telah menanti-nantikan Allah yang berjanji akan menciptakan langit dan bumi yang baru. Kedatangan Tuhan adalah saat di mana Allah memenuhi janji-Nya. Pada waktu itulah Ia akan meminta kita untuk masuk ke dalam dunia baru itu.