Pintu yang Sempit dan Pintu yang Lebar

Selasa, 26 Juni 2018 – Hari Biasa Pekan XII

143

Matius 7:6, 12-14

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

***

Umat kristiani hanyalah minoritas di negeri ini. Hal itu mungkin membuat kita bertanya-tanya, “Kenapa tidak banyak orang yang tertarik menjadi pengikut Yesus?” Berbagai ulasan dari sisi sejarah, sosiologi, dan bahkan politik barangkali dapat menjelaskannya. Namun yang pasti, menjadi pengikut Yesus tidaklah gampang. Untuk menjadi murid Yesus, orang ibaratnya harus masuk melalui pintu yang sempit.

Ajaran Yesus memang bisa diringkas dalam hukum cinta kasih. Hal ini sangat mudah untuk diingat, tetapi tidak selalu mudah untuk diwujudkan. Untuk mewujudkannya kadang diperlukan perjuangan yang sangat keras. Contohnya saja perintah untuk mengasihi dan mengampuni musuh. Perintah ini benar-benar berat dan sulit untuk dijalankan!

Masih tentang khotbah di bukit, Yesus hari ini berbicara tentang hukum kencana, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Ia menyebutnya sebagai ringkasan hukum Taurat dan ajaran para nabi. Hukum ini dinyatakan secara positif yang menuntut adanya sikap proaktif, tidak sekadar menunggu atau bereaksi. Risiko memang ada, yakni bahwa inisiatif dan niat baik kita bisa saja tidak ditanggapi atau dimengerti secara keliru. Namun, itulah risiko mencintai. Cinta kadang-kadang disalahpahami, bahkan ditolak. Bagaimanapun, bagi murid-murid Yesus, itu adalah pintu sempit yang harus dilalui.

Masih hangat dalam ingatan kita teror yang baru-baru ini mengguncang ketenangan bangsa kita. Seorang pemuda menerobos Gereja St. Helena di Yogyakarta, lalu menyabetkan pedang sehingga melukai beberapa umat dan imam yang tengah memimpin Ekaristi. Sang imam, Romo Edmund Prier SJ, setelah kejadian berkenan memaafkan tindakan orang itu.

Sebulan yang lalu bom bunuh diri meledak di tiga gereja di Surabaya. Banyak orang menjadi korban, di antaranya kakak beradik Evan dan Nathan. Kita bisa membayangkan perjuangan yang tidak gampang bagi keluarga Evan dan Nathan – sang ibu juga ikut terluka oleh serangan bom itu – untuk menerima kenyataan bahwa kedua anak terkasih telah direnggut dari mereka, dan untuk memaafkan para pelaku bom bunuh diri tersebut.

Pribadi-pribadi tersebut di atas memberikan contoh bagaimana berjalan melewati pintu sempit yang ditunjukkan oleh Yesus. Pintu yang lebar memang diminati banyak orang, tetapi waspadalah, sebab pintu yang demikian hanya mengantar kepada kebinasaan.

Karena itu, marilah kita refleksikan, pintu sempit manakah yang saat ini ada di hadapan kita? Maukah kita memilih dan melaluinya? Beranilah kita menolak untuk memilih pintu yang lebar, yang akan mengantar kita pada kebinasaan? Ketika kita masuk melalui pintu yang sempit, kita harus ingat bahwa kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri. Bersandarlah pada rahmat dan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan.