Kebijaksanaan Dasar Kristiani: Takut Akan Allah

Sabtu, 21 Juli 2018 – Hari Biasa Pekan XV

131

Mikha 2:1-5

Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya; yang melakukannya di waktu fajar, sebab hal itu ada dalam kekuasaannya; yang apabila menginginkan ladang-ladang, mereka merampasnya, dan rumah-rumah, mereka menyerobotnya; yang menindas orang dengan rumahnya, manusia dengan milik pusakanya! Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku merancang malapetaka terhadap kaum ini, dan kamu tidak dapat menghindarkan lehermu dari padanya; kamu tidak dapat lagi berjalan angkuh, sebab waktu itu adalah waktu yang mencelakakan. Pada hari itu orang akan melontarkan sindiran tentang kamu dan akan memperdengarkan suatu ratapan dan akan berkata: “Kita telah dihancurluluhkan! Bagian warisan bangsaku telah diukur dengan tali, dan tidak ada orang yang mengembalikannya, ladang-ladang kita dibagikan kepada orang-orang yang menawan kita.” Sebab itu tidak akan ada bagimu orang yang melontarkan tali dengan undian di dalam jemaah TUHAN.

***

Bacaan pertama hari ini menampilkan nubuat Nabi Mikha. Nabi Mikha adalah nabi sebelum pembuangan, sebab ia bernubuat tentang kehancuran kerajaan utara dan kerajaan selatan. Nabi Mikha bernubuat tentang kehancuran dan penghukuman karena umat Allah tidak setia. Mereka tetap berbuat jahat dan tidak mau bertobat. Kejahatan mereka semakin menjadi-jadi.

Nabi Mikha bernubuat bahwa pada akhirnya kedua kerajaan – Yehuda dan Israel – akan mengalami nasib yang sama. Akhir hidup mereka akan sama, yaitu kehancuran total dan kebinasaan. Dosa umat Allah diibaratkan seperti luka yang tidak dapat sembuh dan sudah menjalar ke mana-mana. Kemuliaan umat Allah akan segera berakhir dengan tragis karena mereka telah menolak Allah yang telah menyelamatkan mereka.

Sebetulnya apa dosa mereka? Dosa yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah penindasan. Mereka menindas saudara-saudara mereka sendiri. Setiap orang dengan sesuka hati merancang kejahatan setiap hari. Tidak ada lagi aturan. Mereka saling merampas dan menyerobot rumah-rumah orang lain. Tidak ada keadilan dan kasih setia, sebaliknya yang ada hanyalah kekejian di tengah umat Allah.

Umat Allah sudah tidak lagi takut akan Allah yang seharusnya menjadi sikap dasar iman mereka. Hukum-hukum Allah yang mengatur harmoni dan kehidupan sebagai bangsa pilihan sudah tidak lagi mendapat tempat di hati umat. Mereka sudah tidak setia lagi kepada Allah. Karena itu, buah dari segala perbuatan tersebut adalah penghukuman. Dengan tidak adanya kasih dan kebaikan di antara mereka, mereka menjadi bangsa yang lemah dan mudah dikalahkan oleh bangsa lain.

Kata kunci dalam perikop ini adalah takut akan Tuhan. Itulah wujud takluknya hati manusia kepada hukum dan kuasa Allah yang dahsyat dan mengagumkan.