Antara Najis dan Tahir

Minggu, 2 September 2018 – Minggu Biasa Pekan XXII

195

Markus 7:1-8, 14-15, 21-23

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

“Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

***

Ketika agama menjadi serangkaian peraturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, ada kecenderungan untuk menjalankannya semata-mata demi peraturan. Akibatnya, agama lalu kehilangan inti dan rohnya. Kecenderungan inilah yang terjadi pada diri orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, sehingga mereka dikecam oleh Yesus sebagai orang munafik. Mereka terlalu menekankan peraturan Taurat mengenai ritual pembersihan tangan, sehingga mengabaikan semangat atau roh dari hukum Taurat, yakni cinta kasih dan keadilan.

Yesus mengangkat contoh ritual kurban yang oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat digunakan untuk mengabaikan perintah Allah untuk menghormati orang tua. Jika seseorang telah bersumpah untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, sumpah itu harus ditaati karena hukum Musa memerintahkannya demikian (Bil. 30:2; Ul. 23:21-23). Namun, Yesus menilai bahwa sumpah untuk berkurban tidak boleh mengesampingkan dan mengabaikan perintah Allah untuk menghormati orang tua. Penilaian ini selaras dengan para nabi yang menghukum orang Israel karena mereka menaati hukum untuk mempersembahkan kurban, tetapi gagal untuk mencintai dan menaati perintah Allah dengan hati mereka (Yes. 11:11-17; Yer. 7:22-23; Hos. 6:6; Am. 5:21-27).

Yesus sendiri telah memperlihatkan semangat atau roh yang benar dari hukum Taurat. Bagi-Nya, semangat atau roh itu terletak pada cinta kasih dan keadilan terutama bagi kaum terpinggirkan dan terbuang. Yesus melanggar hukum tahir-najis ketika mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh orang kusta (Mrk. 1:41), ketika membiarkan wanita yang sedang mengalami pendarahan menyentuh-Nya (Mrk. 5:27-28), dan ketika memegang tangan seorang gadis yang telah meninggal (Mrk. 5:41). Melalui tindakan-tindakan itu, Yesus menunjukkan bahwa peraturan tahir-najis tidak pernah dimaksudkan untuk melarang tindakan kasih sayang dan keadilan. Ketika hal-hal yang dinilai najis disentuh-Nya, Yesus tidak menjadi najis, tetapi malah membuat orang yang dianggap najis menjadi tahir. Inilah kekuatan transformatif Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus.