Kesembuhan bagi Orang-orang Sakit

Rabu 5 September 2018 – Hari Biasa Pekan XXII

127

Lukas 4:38-44

Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

***

Dari Sinagoga di Kapernaum, Yesus bergerak ke rumah Simon. Di situ, Yesus menyembuhkan mertua Simon yang sakit demam. Penyembuhan yang dilakukan Yesus tampaknya seperti pengusiran setan. Gambaran Lukas ini merefleksikan pandangan kuno bahwa orang yang kerasukan dan orang sakit adalah orang-orang yang ditindas oleh kekuatan-kekuatan jahat sehingga membutuhkan pembebasan.

Mukjizat penyembuhan ibu mertua Petrus berakhir dengan catatan tentang tanggapannya terhadap tindakan Yesus. Tanggapannya bukan kekaguman dan ketakjuban, melainkan tindakan keramahan yang mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya. “Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.”

Tidak hanya ibu mertua Petrus yang disembuhkan Yesus, tetapi juga semua orang sakit dan kerasukan yang dibawa kepada-Nya. Dari banyak orang itu keluarlah setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Identitas Yesus diperlihatkan oleh setan-setan itu. Namun, Yesus dengan keras melarang mereka untuk berbicara. Larangan ini sangat mungkin diambil dari Injil Markus. Dalam konteks Injil Markus, identitas Yesus sebagai Mesias dirahasiakan sampai peristiwa Paskah ketika pemahaman tentang Mesias telah dipahami secara lebih tepat.

Setelah melarang setan-setan, Yesus pergi ke suatu tempat yang terpencil. Namun, orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Yesus lalu menegaskan misi-Nya yang lebih luas dan melampaui batas wilayah-Nya sendiri. Dalam Injil Lukas, Yesus mengomunikasikan pemahaman yang jelas tentang misi-Nya untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah ke seluruh kota di Israel dan bahkan sampai ke ujung bumi melalui pelayanan dan pewartaan para murid-Nya.