Tanah Air Surgawi

Selasa, 18 Desember 2018 – Hari Biasa Khusus Adven

127

Matius 1:18-24

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya.

***

Tanah kelahiran memiliki makna dan ikatan emosional yang kuat, lebih-lebih bagi mereka yang lama atau jauh terpisah darinya. Banyak perasaan bercampur aduk ketika ingatan akan tanah kelahiran dan kerinduan untuk kembali mulai menjalar di benak dan hati. Salah satu aspek yang membuat ikatan emosi ini begitu kuat adalah rasa memiliki budaya, kebiasaan, cara hidup, juga orang-orang dekat. Karena itulah setiap orang pasti akan bangga dan rindu terhadap tanah kelahirannya.

Nabi Yeremia dalam bacaan pertama (Yer. 23:5-8) menubuatkan bahwa Tuhan akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud, yang akan memerintah sebagai raja yang bijaksana, dan akan melakukan keadilan serta kebenaran di seluruh negeri. Nama yang diberikan orang kepadanya adalah “Tuhan keadilan kita.” Melalui dia, Tuhan akan membangun kembali tanah yang dijanjikan-Nya sebagai tempat yang dirindukan semua orang.

Sementara itu, bacaan Injil hari ini mengisahkan kesulitan yang dihadapi oleh Maria dan Yusuf dalam rangka menghadirkan Tunas tersebut ke dunia. Meskipun demikian, malaikat Tuhan pada akhirnya berhasil meyakinkan mereka berdua – dalam hal ini terutama Yusuf – untuk membiarkan diri mereka dijadikan sarana oleh Allah. Allah mau menjadikan hati manusia sebagai tempat kediaman-Nya; Allah ingin membangun tanah air kita dengan adil dan bijaksana sebagai antisipasi akan tanah air surgawi.

Karena itu, marilah kita siapkan hati untuk menyambut Raja yang adil dan bijaksana tersebut. Marilah kita menerima-Nya dalam hidup ini untuk membangun kembali tanah air kita yang porak-poranda akibat dosa. Pada akhirnya, ketika tiba saatnya kita dipanggil kembali ke tanah air surgawi, di surga abadi, semoga kita diliputi kebahagiaan yang besar, sebab di sanalah kita akan hidup bersama Tuhan untuk selama-lamanya.