Kasihilah Sesamamu, Juga Musuhmu

Sabtu, 16 Maret 2019 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

54

Matius 5:43-48

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

***

Bertolak dari sebuah perintah yang juga tertulis dalam kitab Imamat 19:18, Yesus mengajak kita semua untuk melangkah pada sikap hidup yang lebih mendalam dan semakin sempurna. Dalam kitab Imamat – sebagaimana yang diungkapkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini – tertulis demikian, “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.”

Secara naluriah, begitulah sikap manusia. Idealisme setiap pribadi adalah mengasihi sesama, yang diharapkan dapat menciptakan kehidupan yang penuh dengan kerukunan, kedamaian, dan persaudaraan. Meskipun demikian, persoalan tidak dapat dihindarkan dalam hubungan dengan sesama. Tidak ada orang yang berharap mempunyai musuh, tetapi nyatanya ada berbagai macam persoalan yang memicu timbulnya permusuhan.

Kita tahu bahwa permusuhan itu tidak baik, tidak enak, serta membebani. Namun, entah mengapa, rasa benci dan dendam terhadap orang yang menjadi musuh kita susah sekali ditolak. Dengan demikian, ajakan untuk mengasihi musuh yang disampaikan Yesus hari ini kiranya cukup logis. Ini bukan untuk kepentingan pihak lain, tetapi lebih-lebih demi kepentingan dan kebahagiaan kita masing-masing.

Itulah sebetulnya makna kasih yang terdalam. Dengan mengasihi musuh, kita diajak pada suatu sikap iman yang lebih dari sekadar mengikuti dorongan manusiawi. Secara manusiawi, kita ingin meluapkan dendam dan emosi terhadap orang yang tidak kita sukai. Namun, Yesus mengajak kita untuk mengasihi. Membenci bukan hanya membebani orang lain. Tanpa sadar, sikap itu juga akan menambah beban pikiran dan beban perasaan dalam diri kita sendiri.

Demikianlah, mengasihi sesama ternyata mencakup juga kasih terhadap musuh. Perwujudan kasih kita sebagai murid-murid Yesus harus sampai pada kemampuan untuk memandang musuh sebagai sesama yang semestinya juga dikasihi. Dengan mengasihi musuh, kita juga mengasihi Allah yang telah melimpahkan kasih kepada kita. Dengan mengasihi musuh, kita juga mengasihi diri kita sendiri, sebab dengan itu kita membebaskan diri dari belenggu pikiran dan perasaan negatif terhadap orang lain. Kasihilah sesama dengan utuh. Setiap insan layak untuk dikasihi dan mengasihi, layak untuk diampuni dan mengampuni.